Bayangkan Indonesia seperti sebuah magnet raksasa. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan adalah inti magnet. Inti magnet tersebut merupakan wilayah yang menarik sumber daya, manusia, dan modal dari daerah-daerah sekitarnya. Inilah yang disebut pusat pertumbuhan atau core dalam teori ekonomi wilayah yang digagas oleh Gunnar Myrdal.
Magnet bekerja dua arah. Ia bisa menyedot, dan ia juga bisa memencar. Dari sinilah lahir dua konsep yang saling berlawanan, yaitu Backwash Effect dan Spread Effect.
Seperti yang ditunjukkan gambar , Backwash Effect adalah dampak negatif dari pertumbuhan wilayah inti terhadap wilayah pinggiran. Aliran sumber daya berjalan satu arah, yaitu dari daerah asal menuju kota besar yang lebih menjanjikan.
1. Unsur yang Terpengaruh Backwash Effect
Dalam proses ini, terdapat tiga unsur utama yang secara bersamaan mengalir keluar dari daerah asal menuju kota besar, yaitu tenaga kerja, modal, dan sumber daya alam.
Tenaga kerja yang berpindah umumnya adalah kelompok usia produktif dengan keterampilan yang lebih baik. Modal usaha juga cenderung berpindah ke kota karena peluang keuntungan yang lebih tinggi. Sementara itu, sumber daya alam dari desa sering dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas ekonomi di kota.
Akibatnya, wilayah pinggiran kehilangan potensi pembangunan, sedangkan kota semakin berkembang pesat.
2. Faktor yang Memengaruhi Backwash Effect
Proses backwash effect dipengaruhi oleh tiga (3) kelompok faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor penarik, faktor pendorong, dan faktor penguat. Ketiga faktor ini bekerja secara bersamaan dalam membentuk arus perpindahan sumber daya dari pinggiran ke kota.
a. Faktor Penarik dari Core (Pull Factors)
Faktor penarik adalah kekuatan dari kota yang menarik sumber daya dari wilayah pinggiran.
1) Kesenjangan upah
Upah di kota yang lebih tinggi dibandingkan desa mendorong tenaga kerja muda untuk berpindah karena ingin meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup.
2) Aglomerasi ekonomi
Konsentrasi industri, jasa, dan perdagangan di kota menciptakan efisiensi produksi dan peluang usaha yang lebih besar.
3) Infrastruktur lebih lengkap
Kota memiliki fasilitas seperti jalan, listrik, internet, pendidikan, dan kesehatan yang lebih baik sehingga lebih menarik untuk ditinggali dan dijadikan lokasi usaha.
4) Pasar yang lebih besar
Permintaan konsumen di kota lebih tinggi dan beragam, sehingga menarik investasi dan aktivitas ekonomi.
b. Faktor Pendorong dari Periphery (Push Factors)
Kondisi di wilayah pinggiran yang mendorong keluarnya sumber daya.
1) Keterbatasan lapangan kerja
Sektor pertanian yang dominan bersifat musiman sehingga tidak mampu menyediakan pekerjaan yang stabil.
2) Minimnya akses permodalan
Sulitnya memperoleh kredit membuat usaha lokal sulit berkembang.
3) Harga lahan rendah
Nilai lahan yang rendah mendorong masyarakat menjual tanahnya atau mengalihfungsikannya.
4) Ketimpangan pendidikan
Fasilitas pendidikan yang terbatas menyebabkan tenaga kerja terampil pindah ke kota dan jarang kembali.
c. Faktor Penguat (Amplifying Factors)
Faktor yang mempercepat dan memperparah proses backwash effect.
1) Efek jaringan sosial
Migrasi terjadi secara berantai karena adanya informasi dan dukungan dari orang yang sudah lebih dulu pindah ke kota.
2) Kebijakan investasi yang terpusat
Pembangunan dan investasi yang lebih difokuskan di kota memperkuat ketimpangan antarwilayah.
3) Cumulative causation
Konsep dari Gunnar Myrdal yang menjelaskan bahwa semakin banyak sumber daya keluar dari pinggiran, maka semakin kuat perkembangan kota dan semakin lemah kemampuan desa untuk berkembang.
3. Contoh Backwash Effect
Untuk memahami backwash effect secara lebih konkret, kita dapat melihat beberapa contoh yang terjad. Contoh-contoh ini menunjukkan perpindahan sumber daya dari pinggiran ke kota berlangsung dalam kehidupan nyata.
Backwash Effect — Dampak Negatif
| CORE (PUSAT) | PERIPHERY (KAWASAN PINGGIRAN) | DAMPAK BAGI KAWASAN PINGGIRAN |
|---|---|---|
| •Jakarta |
Jabodetabek-Punjur Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur |
Lahan pertanian dan kebun teh di Bogor serta Cianjur beralih fungsi menjadi perumahan dan kawasan industri. Petani kehilangan lahan, sementara tenaga kerja muda lebih memilih sektor informal di Jakarta. |
| •Surabaya |
Gerbangkertosusila Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Sidoarjo, Lamongan, Madura |
Tenaga kerja muda dari Bangkalan dan Lamongan mengalir ke Surabaya. Madura kehilangan wirausahawan lokal karena potensi bisnis dianggap lebih besar di pusat kota. |
| •Jerman Barat |
Eropa Timur Romania, Bulgaria, Polandia, Hungaria |
Lebih dari 3,4 juta warga Romania dan jutaan lainnya hijrah. Rumah sakit kekurangan tenaga medis, sektor pertanian menurun, dan terjadi kekurangan tenaga profesional. |
| •Singapura |
Sijori Growth Triangle Batam, Bintan, Johor Bahru |
Modal dan tenaga ahli terserap ke Singapura. Batam berkembang sebagai penyedia tenaga kerja murah dan lahan industri, bukan pusat inovasi mandiri. |




