Sistem Sumbu Mineral

Geologi Dasar

Mineral dan Sistem Kristal: Definisi, Identifikasi, dan Klasifikasi Lengkap

Mineral adalah senyawa alami yang terbentuk melalui proses geologis. Tidak sekadar bahan kimia semata, mineral juga mencakup struktur kristal yang khas sebagai ciri pembedanya. Artikel ini membahas definisi, cara identifikasi, unsur simetri kristal, hingga tujuh sistem kristal beserta contoh mineralnya.

A Definisi dan Klasifikasi Mineral

Ilmu yang mempelajari mineral disebut mineralogi. Agar suatu senyawa dapat diklasifikasikan sebagai mineral sejati, ia wajib berupa padatan dengan struktur kristal tertentu. Berdasarkan definisi International Mineralogical Association (IMA) tahun 1995, mineral merupakan unsur atau senyawa yang memiliki struktur kristal dan terbentuk melalui proses geologi alami. Senyawa organik umumnya tidak masuk dalam kategori ini.

Mineral meliputi unsur murni dan senyawa seperti garam, mulai dari struktur sederhana hingga silikat kompleks dengan ribuan bentuk yang diketahui.

B Identifikasi Mineral Berdasarkan Sifat Fisik

Setiap mineral dapat dikenali berdasarkan sejumlah sifat fisik yang khas. Berikut tujuh sifat utama yang digunakan para ahli mineralogi dalam proses identifikasi.

1. Kilap

Tampilan permukaan mineral saat terkena cahaya, mencerminkan jenis ikatan kimia di permukaannya.

2. Warna

Warna yang tampak pada mineral, dipengaruhi komposisi kimia dan kotoran di dalamnya.

3. Kekerasan

Diukur menggunakan skala Mohs (1 hingga 10), menunjukkan ketahanan mineral terhadap goresan.

4. Cerat

Warna serbuk mineral saat digoreskan pada plat porselen, bisa berbeda dari warna aslinya.

5. Belahan

Kemampuan mineral membelah sepanjang bidang tertentu mengikuti struktur kristal.

6. Pecahan

Cara mineral patah tanpa arah kristalografi tertentu, contohnya pecahan konkoidal pada kuarsa.

7. Bentuk (Form)

Pola geometris yang membentuk kristal mineral sebagai ekspresi susunan atom di dalamnya.

C Unsur Simetri Kristal

Kristal adalah padatan yang atom, molekul, atau ion penyusunnya tersusun secara teratur dalam pola tiga dimensi berulang. Penentuan klasifikasi kristal bergantung pada banyaknya unsur simetri yang terkandung di dalamnya. Ada tiga unsur simetri utama yang perlu dipahami.

1
Bidang Simetri

Bidang yang dapat membelah kristal menjadi dua bagian yang saling mencerminkan satu sama lain. Dibedakan menjadi bidang simetri aksial dan bidang simetri menengah.

2
Sumbu Simetri

Garis bayangan melewati pusat kristal yang jika dijadikan poros perputaran menghasilkan kenampakan sama beberapa kali dalam satu putaran penuh.

3
Pusat Simetri

Kristal dikatakan memiliki pusat simetri apabila setiap bidang mukanya memiliki pasangan yang berjarak sama dari pusat, dan bersifat inversi terhadap pasangannya.

D Tujuh Sistem Kristal Mineral

Kristal dapat diklasifikasikan ke dalam tujuh kelompok besar yang disebut sistem kristal. Dari tujuh sistem ini, secara keseluruhan dapat dibagi lebih lanjut menjadi 32 kelas kristal. Berikut ringkasan komparatifnya sebelum pembahasan detail masing-masing sistem.

# Sistem Kristal Axial Ratio Sudut Kristalografi Contoh Mineral
1 Isometrik
Kubik
a = b = c α = β = γ = 90° Gold, Pyrite, Galena, Halite
2 Tetragonal a = b ≠ c α = β = γ = 90° Rutil, Autunite, Leucite
3 Hexagonal a = b = d ≠ c α = β = 90°; γ = 120° Quartz, Corundum, Apatite
4 Trigonal
Rhombohedral
a = b = d ≠ c α = β = 90°; γ = 120° Tourmaline, Cinnabar
5 Orthorhombik
Rhombis
a ≠ b ≠ c α = β = γ = 90° Stibnite, Aragonite, Chrysoberyl
6 Monoklin a ≠ b ≠ c α = β = 90° ≠ γ Azurite, Malachite, Gypsum
7 Triklin a ≠ b ≠ c α ≠ β ≠ γ ≠ 90° Albite, Kaolinite, Microcline
E Penjelasan Detail Setiap Sistem Kristal

Berikut pembahasan mendalam setiap sistem kristal, mencakup sifat sumbu, sudut kristalografi, kelas-kelas di dalamnya, dan mineral representatifnya.

01
Sistem Isometrik (Kubik)
Regular System / Cubic System

Sistem isometrik juga dikenal sebagai sistem kristal regular atau kubik. Sistem ini memiliki tiga sumbu kristal yang saling tegak lurus satu sama lain dengan panjang yang seluruhnya sama. Pada proyeksi orthogonal, perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 3, dengan sudut a+ terhadap b⁻ sebesar 30°.

Axial Ratio
a = b = c
Sudut Kristalografi
α = β = γ = 90°
Sistem Kristal Isometrik - Sumbu Mineral
Gambar 1. Diagram sistem kristal isometrik (kubik)

Sistem isometrik dibagi menjadi 5 kelas, yaitu

  1. Tetratoidal
  2. Gyrotoidal
  3. Diploidal
  4. Hextetrahedral
  5. Hexoctahedral
Contoh Mineral Gold (emas), Pyrite (pirit), Galena, Halite, Fluorite
02
Sistem Tetragonal
Tetragonal System

Sistem tetragonal memiliki tiga sumbu kristal yang saling tegak lurus. Sumbu a dan b memiliki satuan panjang yang sama, sedangkan sumbu c berlainan dan umumnya lebih panjang. Pada proyeksi orthogonal, perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6.

Axial Ratio
a = b ≠ c
Sudut Kristalografi
α = β = γ = 90°
Sistem Kristal Tetragonal - Sumbu Mineral
Gambar 2. Diagram sistem kristal tetragonal

Sistem tetragonal dibagi menjadi 7 kelas, yaitu

  1. Piramid
  2. Bipiramid
  3. Bisfenoid
  4. Trapezohedral
  5. Ditetragonal Piramid
  6. Skalenohedral
  7. Ditetragonal Bipiramid
Contoh Mineral Rutil, Autunite, Pyrolusite, Leucite, Scapolite
03
Sistem Hexagonal
Hexagonal System

Sistem hexagonal memiliki empat sumbu kristal. Sumbu c tegak lurus terhadap ketiga sumbu lainnya (a, b, dan d), sementara sumbu a, b, dan d masing-masing membentuk sudut 120° satu sama lain dengan panjang yang sama. Panjang sumbu c berbeda dan umumnya lebih panjang.

Axial Ratio
a = b = d ≠ c
Sudut Kristalografi
α = β = 90°; γ = 120°
Sistem Kristal Hexagonal - Sumbu Mineral
Gambar 3. Diagram sistem kristal hexagonal

Sistem hexagonal dibagi menjadi 7 kelas, yaitu

  1. Hexagonal Piramid
  2. Hexagonal Bipiramid
  3. Dihexagonal Piramid
  4. Dihexagonal Bipiramid
  5. Trigonal Bipiramid
  6. Ditrigonal Bipiramid
  7. Hexagonal Trapezohedral
Contoh Mineral Quartz (kuarsa), Corundum, Hematite, Calcite, Dolomite, Apatite
04
Sistem Trigonal
Rhombohedral System

Sistem trigonal dalam beberapa referensi disebut juga sistem Rhombohedral. Sebagian ahli memasukkan sistem ini ke dalam sistem hexagonal karena memiliki axial ratio dan sudut kristalografi yang sama. Perbedaannya terletak pada pola dasar: setelah terbentuk bidang segi enam, bidang segitiga dibentuk dengan menghubungkan dua titik sudut yang melewati satu titik sudutnya.

Axial Ratio
a = b = d ≠ c
Sudut Kristalografi
α = β = 90°; γ = 120°
Sistem Kristal Trigonal - Sumbu Mineral
Gambar 4. Diagram sistem kristal trigonal

Sistem trigonal dibagi menjadi 5 kelas, yaitu

  1. Trigonal Piramid
  2. Trigonal Trapezohedral
  3. Ditrigonal Piramid
  4. Ditrigonal Skalenohedral
  5. Rombohedral
Contoh Mineral Tourmaline (turmalin), Cinnabar (sinabar)
05
Sistem Orthorhombik
Rhombic System

Sistem orthorhombik dikenal juga sebagai sistem Rhombis. Sistem ini memiliki tiga sumbu simetri kristal yang saling tegak lurus satu sama lain, namun ketiganya memiliki panjang yang berbeda. Pada proyeksi orthogonal, perbandingan sumbu bersifat sembarang tanpa patokan panjang tertentu.

Axial Ratio
a ≠ b ≠ c
Sudut Kristalografi
α = β = γ = 90°
Sistem Kristal Orthorhombik - Sumbu Mineral
Gambar 5. Diagram sistem kristal orthorhombik

Sistem orthorhombik dibagi menjadi 3 kelas, yaitu

  1. Bisfenoid
  2. Piramid
  3. Bipiramid
Contoh Mineral Stibnite, Chrysoberyl, Aragonite, Witherite
06
Sistem Monoklin
Monoclinic System

Monoklin berarti hanya memiliki satu sumbu yang miring dari tiga sumbu yang ada. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu b; sumbu b tegak lurus terhadap sumbu c; namun sumbu c tidak tegak lurus terhadap sumbu a. Ketiga sumbu memiliki panjang yang tidak sama, dan umumnya sumbu c paling panjang sedangkan sumbu b paling pendek.

Axial Ratio
a ≠ b ≠ c
Sudut Kristalografi
α = β = 90° ≠ γ
Sistem Kristal Monoklin - Sumbu Mineral
Gambar 6. Diagram sistem kristal monoklin

Sistem monoklin dibagi menjadi 3 kelas, yaitu

  1. Sfenoid
  2. Doma
  3. Prisma
Contoh Mineral Azurite, Malachite (malakit), Colemanite, Gypsum, Epidot
07
Sistem Triklin
Triclinic System

Sistem triklin merupakan sistem kristal dengan tingkat simetri paling rendah. Sistem ini memiliki tiga sumbu simetri yang tidak saling tegak lurus satu sama lain, dan panjang masing-masing sumbu pun tidak sama. Pada proyeksi orthogonal, sudut a+ terhadap b⁻ sebesar 45°, dan b⁻ terhadap c+ sebesar 80°.

Axial Ratio
a ≠ b ≠ c
Sudut Kristalografi
α ≠ β ≠ γ ≠ 90°
Sistem Kristal Triklin - Sumbu Mineral
Gambar 7. Diagram sistem kristal triklin

Sistem triklin dibagi menjadi 2 kelas, yaitu

  1. Pedial
  2. Pinakoidal
Contoh Mineral Albite, Anorthite, Labradorite, Kaolinite, Microcline, Anorthoclase

Rangkuman

Mineral adalah senyawa alami berkristal yang terbentuk melalui proses geologi. Identifikasinya dapat dilakukan berdasarkan tujuh sifat fisik meliputi kilap, warna, kekerasan, cerat, belahan, pecahan, dan bentuk. Struktur kristal mineral diklasifikasikan ke dalam tujuh sistem utama, dari sistem isometrik dengan simetri tertinggi hingga sistem triklin dengan simetri terendah, yang secara keseluruhan menghasilkan 32 kelas kristal. Pemahaman atas sistem kristal ini menjadi dasar penting dalam mineralogi, geologi, dan pemanfaatan sumber daya mineral.

Referensi: Pellant, Chris (1992); Mondadori, Arlondo (1977); IMA (1995)

close