PENGELOLAAN PESISIR | Studi Kasus : Rencana Pengelolaaan TelukBalikpapan (RPTB) berbasis DAS

Sumber daya pesisir biasanya sangat dipengaruhi oleh berbagai aktivitas pada sekitar kawasan DAS-nya. Ketika aktivitas pada sekitar kawasan DAS bagian hulu digunakan dengan tidak memperhatikan lingkungan ketika terjadi erosi maka akan tersedimentasi kan di daerah pesisir. Diperlukan koordinasi antar stakeholder agar
terjadi keharmonisan antara daerah hulu dan hilir sehinnga dapat memaksimalkan manfaat yang diberikan oleh kawasan teluk dan meminimalkan konflik dan dampak buruk dari kegiatan satu dan kegiatan lainnya. Begitu sebaliknya juga daerah pesisir yang seharusnya digunakan untuk hutan mangrove di konversikan menjadi tambak maka semakin lama tambak tersebut akan menurun kualitasnya dan di daratan akan  terjadi abrasi

Akan tetapi permasalahan teknis di Teluk Balikpapan adalah laju erosi dan sedimentasi, degradasi hutan mangrove, pencemaran perairan, terbatasnya air bersih, potensi wisata pesisir yang belum dikembangkan, penggunaan lahan yang belum konsisten, rendahnya tingkat pendidikan dan keterlibatan masyarakat, ancaman terhadap Hutan Lindung Sungai Wain, dan kelembagaan pengelolaan teluk. Sehngga diperlukan rencana pengelolaan Teluk Balikpapan berbasis DAS

Dalam Rencana Pengelolaan teluk Balikpapan berbasis DAS tersebut seharusnya terdapat peraturan yang tegas untuk penggunaan lahan yang kritis di daerah hulu dan hutan mangrove. Akan tetapi hal tersebut harus disosialisasikan terlebih dahulu agar masyarakat disekitar tersebut mengetahui dan sadar akan kegiatan yang dilakukannya. Sosialisasi tentang manfaat hutan mangrove untuk kawasan pariwisata juga tidak kalah penting tetapi hal ini juga harus mendapat dukungan dari lembaga – lembaga yang ada ataupun dari pemerintah setempat