Koefisien Limpasan (Nilai C Debit)

Contoh perhitungan koefisien limpasan suatu wilayah

Koefisien ditetapkan sebagai rasio kecepatan maksimum pada aliran air dari daerah tangkapan hujan. Koefisien ini merupakan nilai banding antara bagian hujan yang membentuk limpasan langsung dengan hujan total yang terjadi. Nilai C tergantung pada beberapa karakteristik dari daerah tangkapan hujan, yang termasuk didalamnya (Suripin, 2004) :

  1. Relief atau kelandaian daerah tangkapan
  2. Karakteristik daerah, seperti perlindungan vegetasi, tipe tanah dan daerah kedap air
  3. Storage atau karakteristik detention lainnya.

Besarnya aliran permukaan dapat menjadi kecil, terlebih bila curah hujan tidak melebihi kapasitas infiltrasi. Selama hujan yang terjadi adalah kecil atau sedang, aliran permukaan hanya terjadi di daerah yang impermeabel dan jenuh di dalam suatu DAS atau langsung jatuh di atas permukaan air. Apabila curah hujan yang jatuh jumlahnya lebih besar dari jumlah air yang dibutuhkan untuk evaporasi, intersepsi, infiltrasi, simpanan depresi dan cadangan depresi, maka barulah bisa terjadi aliran permukaan. Apabila hujan yang terjadi kecil, maka hampir semua curah hujan yang jatuh terintersepsi oleh vegetasi yang lebat

Koefisien Limpasan (Nilai C Debit)
Lahan kebun campuran dengan vegetasi lebat

Pada daerah dimana penggunaan lahan berubah-ubah, nilai dari koefisien limpasan yang digunakan harus mempertimbangkan pembangunan di daerah hulu, untuk daerah tangkapan air pada masa yang akan datang. Hal ini sangat relevan pada situasi dimana daerah tangkapan air di pedesaan mungkin berkembang sebagian atau seluruhnya menjadi daerah tangkapan hujan perkotaan selama dilakukanya perencanaan pelayanan kesejahteraan hidup.


Koefisien Limpasan (Nilai C Debit)
Lahan padang rumput berpasir memiliki nilai C sebesar 0,25

Pengaruh tata guna lahan pada aliran permukaan dinyatakan dalam koefisien aliran permukaan (C), yaitu bilangan yang menampilkan perbandingan antara besarnya aliran permukaan dan besarnya curah hujan. Angka koefisien aliran permukaan itu merupakan salah satu indikator untuk menentukan bagian curah hujan yang akan mengalir sebagai air larian. Besar kecilnya nilai C tergantung pada permeabilitas dan kemampuan tanah dalam menampung air. Nilai yang kecil menunjukan bahwa sebagian terbesar air ditampung untuk waktu tertentu. Sementara tanah/daerah dengan nilai C besar menunjukan bahwa hampir semua air hujan akan menjadi air larian/limpasan. Daerah bervegetasi umumnya memiliki nilai C kecil, sedang pada daerah pembangunan dengan sebagian besar tanah beraspal atau bentuk permukaan tanah yang kedap air (impervious) laiinya memiliki nilai C besar. 

Koefisien Limpasan (Nilai C Debit)
Permukiman padat memiliki nilai C sebesar 0,75

Tabel Koefisien limpasan berdasarkan fungsi lahan menurut metode rasional

Tataguna lahan C Tataguna lahan C
Perkantoran
Tanah Lapang
Daerah pusat kota
0,70 - 0,95 Berpasir, datar 2% 0,05 - 0,10
Daerah sekitar kota 0,50 - 0,70 Berpasir, agak rata, 2-7%
0,10 - 0,15
Perumahan
Berpasir, miring 7% 0,15 - 0,20
Rumah tunggal 0,30 - 0,50 Tanah berat, datar 2% 0,13 - 0,17
Rumah susun, terpisah 0,40 - 0,60 Tanah berat, agak rata 2-7% 0,18 - 0,22
Rumah susun, bersambung 0,60 - 0,75 Tanah berat, miring 7% 0,25 - 0,35
Pinggiran kota 0,25 - 0,40 Tanah Pertanian

Daerah Industri

Tanah kosong
Kurang padat industri 0,50 - 0,80 Rata 0,30 - 0,60
Padat industri 0,60 - 0,90 Kasar 0,20 - 0,50
Taman, Kuburan 0,10 - 0,25 Ladang garapan 0,20 - 0,50
Tempat bermain 0,20 - 0,35 Tanah berat, tanpa vegetasi 0,30 - 0,60
Daerah stasiun KA 0,20 - 0,40 Tanah berat, dengan vegetasi 0,20 - 0,50
Daerah tak berkembang 0,10 - 0,30 Berpasir, tanpa vegetasi 0,20 - 0,25
Jalan Raya

Berpasir, dengan vegetasi 0,10 - 0, 25
Beraspal 0,70 - 0,95 Padang rumput
Berbeton 0,80 - 0,95 Tanah berat 0,15 - 0,45
Berbatu bata 0,70 - 0,85 Berpasir 0,05 - 0,25
Trotoar 0,75 - 0,85 Hutan/bervegetasi 0,05 - 0,25


Tanah Tidak Produktif, >30%
Daerah beratap 0,75 - 0,95 Rata, kedap air 0,70 - 0,90

Kasar 0,50 - 0,70
Sumber: Suripin, 2004

Suripin (2004), menyatakan bahwa jika DAS terdiri dari berbagai macam penggunaan lahan dengan koefisien aliran permukaan yang berbeda, maka C yang dipakai adalah koefisien DAS yang dapat dihitung dengan persamaan berikut :

Koefisien limpasan (nilai C debit)

dimana :     Ci = koefisien aliran permukaan jenis penutup tanah i
                   Ai = luas lahan dengan jenis penutup tanah i
                     n = jumlah jenis penutup lahan.

Sumber :
  • Suripin. 2004. Sistem Drainase Perkotaan Yang Berkelanjutan. ANDI Offset, Yogyakarta.
  • Aprianto, Widhi Kurniawan.2018. Pemodelan Banjir di Sub DAS Banjir Kanal Timur Kota Semarang.Skripsi. Semarang : Universitas Negeri Semarang