Permukiman Kumuh di Indonesia: Definisi, Karakteristik, dan Sebarannya

Permukiman kumuh di perkotaan Indonesia saat musim hujan
Permukiman kumuh di perkotaan kerap dilanda banjir saat musim hujan.
Permukiman kumuh menjadi salah satu tantangan paling nyata dalam proses urbanisasi di Indonesia. Kawasan ini identik dengan lingkungan perumahan yang tidak teratur, minim fasilitas, serta jauh dari standar kesehatan dan kelayakan hunian modern. Lebih dari sekadar masalah fisik, permukiman kumuh mencerminkan ketimpangan sosial yang erat kaitannya dengan kemiskinan dan rendahnya akses masyarakat terhadap layanan dasar.

4 Karakteristik Utama Permukiman Kumuh

🏚️
Lingkungan Fisik
Tidak memenuhi syarat teknis dan kesehatan
🧱
Bangunan Rapuh
Material semi permanen, tidak aman dan tidak nyaman
👥
Kepadatan Tinggi
>500 jiwa/hektar, KDB melebihi batas izin
🔀
Fungsi Campur
Hunian, warung, gudang dalam satu bangunan

A. Definisi dan Karakteristik Permukiman Kumuh

Menurut Soestrisno (1998), permukiman kumuh adalah kawasan perumahan yang mengalami penurunan kualitas secara fisik, sosial, dan fungsional. Kawasan ini umumnya memiliki sejumlah ciri yang dapat dikenali secara kasat mata maupun melalui data teknis.

1. Kondisi Fisik Lingkungan yang Buruk

Lingkungan permukiman kumuh umumnya tidak memenuhi persyaratan teknis maupun kesehatan. Fasilitas dasar seperti sanitasi layak dan akses air bersih hampir tidak tersedia, sehingga warga rentan terhadap berbagai penyakit berbasis lingkungan.

2. Kualitas Bangunan di Bawah Standar

Bangunan yang berdiri di kawasan kumuh umumnya dibangun dari bahan semi permanen yang tidak tahan lama. Konstruksinya tidak memenuhi standar keamanan maupun kenyamanan, sehingga rawan terhadap bencana seperti kebakaran dan banjir.

3. Kepadatan Bangunan dan Penduduk yang Tinggi

Koefisien Dasar Bangunan (KDB) di kawasan kumuh sering melampaui batas yang diizinkan. Kepadatan penduduknya pun sangat tinggi, kerap mencapai lebih dari 500 jiwa per hektar, jauh melampaui ambang batas ideal hunian perkotaan.

4. Fungsi Bangunan yang Tidak Terarah

Bangunan di permukiman kumuh biasanya difungsikan untuk berbagai kegiatan secara bersamaan. Satu unit hunian bisa sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal, warung, bengkel, hingga gudang penyimpanan barang dagangan.

Siklus Terbentuknya Permukiman Kumuh

Diagram siklus permukiman kumuh Urbanisasi tinggi memicu kemiskinan kota, menyebabkan hunian tak terjangkau, membentuk permukiman kumuh yang memperparah kemiskinan. Urbanisasi Arus masuk ke kota Kemiskinan Lapangan kerja terbatas Hunian Terbatas Harga tak terjangkau Permukiman Kumuh Terbentuk di pinggiran memperparah kemiskinan

B. Sebaran Permukiman Kumuh di Indonesia

Permukiman kumuh tidak hanya ditemukan di satu kota, melainkan tersebar di berbagai daerah dengan tingkat urbanisasi tinggi di seluruh Indonesia. Berikut beberapa kota besar yang menjadi titik konsentrasi permukiman kumuh.

Estimasi Kepadatan Kawasan Kumuh per Kota (jiwa/hektar)

Bar chart kepadatan kawasan kumuh Jakarta 620, Surabaya 580, Bandung 540, Makassar 510, Medan 495, Tegal 470 jiwa per hektar. 500 620 Jakarta 580 Surabaya 540 Bandung 510 Makassar 495 Medan 470 Tegal Di atas ambang ideal Mendekati ambang Ambang ideal (500)

1. Jakarta

Kawasan kumuh di Jakarta tersebar di pinggiran kota, terutama di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat. Beberapa kawasan yang dikenal sebagai permukiman kumuh padat antara lain Kampung Pulo, Rawa Bebek, dan Petamburan.

2. Tegal

Di Kota Tegal, permukiman kumuh banyak ditemukan di kawasan pesisir pantai. Salah satu wilayah yang paling menonjol adalah Kelurahan Tegalsari yang menghadapi permasalahan kualitas hunian cukup serius.

3. Surabaya

Permukiman kumuh di Surabaya terkonsentrasi di wilayah Surabaya Timur. Beberapa kawasan yang kerap disebut dalam berbagai kajian antara lain Tambak Wedi, Jambangan, dan Gunung Anyar.

4. Bandung

Kota Bandung memiliki kantong permukiman kumuh di wilayah utara maupun selatan. Kawasan Babakan Sari, Situ Gede, dan Cikutra tercatat sebagai beberapa di antaranya yang memerlukan perhatian serius.

5. Makassar

Di Makassar, kawasan kumuh tersebar di kecamatan Biringkanaya. Area seperti Bukit Baruga dan Kassi-Kassi menjadi contoh nyata wilayah yang membutuhkan intervensi penataan hunian.

6. Medan

Permukiman kumuh di Medan banyak ditemui di kawasan Medan Baru, dengan dua titik yang paling dikenal adalah Belawan Bahari dan Tanjung Gusta.
Perlu ditegaskan bahwa persebaran permukiman kumuh di Indonesia jauh lebih luas dari daftar di atas. Hampir setiap kota besar dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi menghadapi persoalan serupa. Kondisi ini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan hidup, serta menurunnya citra kawasan perkotaan secara keseluruhan.
Pemerintah Indonesia terus menggulirkan berbagai program untuk menangani permasalahan ini, mulai dari program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) hingga pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) sebagai alternatif hunian yang lebih layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Sumber Referensi
Soetrisno (1998). Proposal Harbinson, Analisis Kebijakan Pertanian.
close