Sejarah Perkembangan Ilmu Geologi

Aristoteles pada 2300 tahun yang lalu mengemukakan bahwa batuan terbentuk karena pengaruh bintang-bintang. Sementara gempabumi terjadi akibat meledaknya udara yang padat di bumi karena adanya proses pemanasan oleh pusat api. Frank D. Adams dalam “Geological Science” (Devor, 1938) mengemukakan bahwa selama masa pertengahan, Aristoteles dihormati sebagai kepala dan pimpinan semua filsuf, yang pendapatnya pada subyek apapun merupakan hukum dan hasil akhir.

Jejak-jejak awal ilmu geologi juga dibuktikan dalam sketsa tinta seniman besar Leonardo da Vinci (1452–1519), yang secara hati-hati menggambarkan bentuk badan batuan dalam sketsa untuk memahami bentuk alami Bumi. Kemudian pada abad 17, datanglah deskripsi pertama deformasi batuan. Nicholas Steno (1631–1686) menguji singkapan-singkapan dimana perlapisan batuannya tidaklah horizontal, dan beranggapan bahwa lapisan (strata) tersebut tidak berposisi lapisan horizontal dan pasti telah berubah posisi (dislokasi) karena sesuatu hal. Pada awal abad 18, kemudian kompleksitas batuan di rentang pegunungan seperti Alpen dikenal secara luas dan membutuhkan penjelasan.


Gambar Sketsa yang dibuat oleh Leonardo da Vinci, memperlihatkan secara jelas detail lipatan perlapisan pegunungan di Italia (ca. 1500 AD). 

Gambar Kenampakan dari udara pegunungan Alpin Eropa (Perancis). 

Baron Georges Cuvier (1810), berkebangsaan Perancis, melihat adanya fakta bahwa pada zaman dahulu ada spesies flora dan fauna yang mengalami kepunahan dan kemudian muncul spesies flora dan fauna yang baru. Semua peristiwa tersebut terjadi karena adanya bencana (catastrophic) secara mendadak dengan sangat dahsyat dan berlangsung di seluruh muka bumi. Konsep ini dikenal sebagai Teori Malapetaka atau Katastrofik (Catastrophism). 

Pada akhir abad ke-18, James Hutton (1795), seorang ahli fisika Skotlandia, menerbitkan buku Theory of the Earth. Hutton mencetuskan kalimat “The present is the key to the past.” Kalimat tersebut bermakna bahwa kondisi geologi pada saat ini merupakan hasil dari proses geologi di masa lampau, sehingga dengan mempelajari karakteristik bumi pada saat ini, kita dapat mengetahui proses geologi di masa lampau. James Hutton dijuluki sebagai bapak geologi modern dan teori yang dikemukakan oleh Hutton ini dikenal sebagai teori uniformitarianisme. 

Charles Lyell (1797-1875) mengemukakan pemikirannya melalui bukubukunya, salah satunya Principles of Geology. Lyell mengilustrasikan konsepkonsep kesamaan dari alam sesuai dengan waktu. Lyell dapat memperlihatkan bahwa proses-proses geologi yang diamati sekarang berlaku juga pada masa lalu. Walaupun teori uniformitarianisme tidak dimulai oleh Lyell, namun dia adalah orang yang lebih sukses dalam menginterpretasi dan mempublikasikan pada masyarakat luas.

Ilmu geologi terus berkembang seiring dengan ditemukan berbagai teknologi, misalnya teknologi geofisika. Seperti munculnya teori continental drift (apungan benua) pada tahun 1912 oleh Alfred Wegener yang mengemukakan bahwa pada 250 juta tahun yang lalu semua benua dan pulau yang ada saat ini asalnya satu daratan raksasa yang kemudian retak dan terus bergerak (mengapung) yang di antaranya menyebabkan terjadinya Benua Amerika dan Afrika yang terpisah, serta benua-benua lainnya. Teori ini kemudian terus disempurnakan oleh peneliti berikutnya hingga lahirnya Teori Tektonik Lempeng pada tahun 1968. 


Sumber :
  • Anonim.2016. Modul Geodas Pemicu I 
    www.sci.ui.ac.id/wp.../02/Modul-Geodas-Pemicu-I-bagian-1.pdf