Dulu Malaysia datangkan Tenaga Pendidik dari Indonesia Sekarang datangkan Tenaga Kerja Indonesia

Gambar hanya ilustrasi
Gambar hanya ilustrasi

     Indonesia merupakan salah satu bangsa yang merebut kemerdekaannya dengan jalan perjuangan serta melakukan hubungan diplomatik tingkat internasional. Berbeda dengan Malaysia, negara tersebut baru memperoleh kemerdekaan setelah 12 tahun Indonesia merdeka. Malaysia bersepakat dengan Negara Inggris untuk meresmikan Negara Federasi Malaysia. Namun, keadaan saat ini berbeda dengan beberapa dekade yang lalu, Malaysia sudah berada jauh dari saudara serumpunnya di Asia Tenggara. Pendidikan Malaysia kini berada jauh melampaui pendidikan yang ada di Indonesia. Malay belajar ke Indonesia dari peningkatan pendidikan, kini semua lini kehidupan di Malaysia ikut terdongkrak naik menyaingi Indonesia.

    Beberapa dekade yang lalu pendidikan di Negara Indonesia berada jauh di depan Negara Malaysia. Pada beberapa dekade yang lalu juga Indonesia menjadi acuan pendidikan. Mutu pendidikan di negara kita banyak diakui negara-negara lainnya. Presiden Soeharto mengawali kebijakan yang visioner yaitu ingin membantu Malaysia. Hal tersebut didasarkan pada rasa persahabatan sesama negara di Kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Berdasarkan kebijakan dari Presiden Soeharto tersebut, dikirimkanlah ribuan tenaga pengajar Indonesia termasuk guru dan dosen ke negeri Jiran. Bahkan pemuda-pemuda Malay belajar ke Indonesia, pemuda dari Malaysia tersebut banyak dikirim dan disekolahkan ke negeri kita.

    Pada tahun 1968, Kementerian Pelajaran dan Kantor Urusan Pegawai Malaysia mengunjungi Indonesia. Mereka ditugaskan untuk merekrut guru dan dosen yang akan ditugaskan di sekolah-sekolah menengah serta universitas di Negara Malaysia.

    Pada tahap pertama, jumlah guru dan dosen Indonesia yang mendaftar di Kedutaan Besar Malaysia di Kota Jakarta ternyata lebih dari perkiraan. Menurut catatan Kompas (18/11/1968), saat itu sudah ada sekitar 125 guru dan 14 dosen yang tertarik berpartisipasi dalam pengiriman tenaga pendidik di Malaysia. Hal tersebut berbeda dengan rencana, Malaysia yang hanya akan mengambil sekitar 65 guru dan dosen asal Indonesia pada tahap awal kerja sama. Terdapat serangkaian seleksi yang hasrus dilewati, barulah diputuskan tenaga pendidik yang akan dikirim secara bertahap ke Malaysia. Berdasarkan hasi seleksi terdapat 60 orang guru dan 7 orang dosen yang dikirim ke Malaysia.

Pada tahun-tahun berikutnya, hampir setiap tahun Pemerintah Indonesia memberangkatkan guru dan dosen ke Malaysia. Pengiriman tenaga pendidik yang berasal dari Indonesia ke luar negeri semakin bertambah, karena Malaysia terus meningkatkan kuota penerimaan tenaga pendidik yang berasal dari Indonesia. Pada akhir 1969, Malaysia menyampaikan bahwa permintaan akan tenaga pendidik yang berasal dari Indonesia mencapai total 360 orang.

    Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik, pemerintah Indonesia mengatur tahap seleksi dan perekrutan guru berdasarkan asal wilayah. Unsur pelaksananya berada di bawah Kementerian Pendidikan. Berdasarkan ketentuan Pemerintah, seperti yang dikutip dari Kompas (10/10/1969), per tahun 1969 Indonesia melakukan ekspor guru ke Malaysia dan melibatkan sebanyak 35 tenaga pengajar terpilih dari wilayah Jakarta dan Kalimantan. Jumlah tersebut belum termasuk guru pengajar dari utusan Menteri Pendidikan yang terbagi dari 25 guru dari Direktorat Pendidikan Umum, 5 guru dari Direktorat Kejuruan, dan 5 guru dari Direktorat Perguruan Tinggi.

    Upaya Pemerintah RI membuahkan hasil. Pada 1970, jumlah guru yang berangkat ke Malaysia mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah guru juga dipengaruhi oleh kunjungan perdana Presiden Soeharto ke Malaysia pada tanggal 16 Maret 1970.

    Akan tetapi keadaan Negara Indonesia saat ini sudah berubah. Dahulu kita mengirimkan tenaga pendidik untuk mencerdaskan masyarakat Malaysia dengan upah yang tinggi. Tak hanya itu. Jika dulu banyak terdapat pemuda Malay belajar ke Indonesa, tetapi kini sudah terbalik. Sekarang, banyak pemuda Indonesia yang pergi ke Malaysia untuk belajar di universitas-universitas di Malaysia. Tetapi sekarang negara kita hanya bisa mengirimkan tenaga kerja.

    Pendidikan di Indonesia memiliki masalah terkait dengan kondisi geografis. Indonesia memiliki luas yang sangat besar serta terdiri atas banyak pulau. Keadaan tersebut mebuat pendidikan di Indonesia menjadi sulit terjangkau. Pemerataan pembangunan menjadi solusi untuk dapat membuat pendidikan di Indonesia menjadi maju. Kita dapat memodifikasi cara Malay belajar ke Indonesia yaitu dengan cara mengirimkan tenaga pendidik kita ke negara maju untuk bisa belajar dan mempraktikannya di Indonesia. Alasan tersebut karena dinamika kependudukan yang ada di Indonesia jika dibandingkan dengan negara Malaysia, kita jauh lebih unggul di dalam kuantitas penduduk. Bisa dibayangkan jika semua penduduk yang ada di Indonesia mendapatkan fasilitas pendidikan yang sama. Maka di Indonesia tidak hanya kuantitas penduduk yang tinggi, tetapi kualitas penduduk juga tinggi.