Klasifikasi Kesesuaian Lahan
Pengelompokan dan pencocokan kualitas lahan terhadap indikator penggunaan lahan berdasarkan pedoman FAO (1976) — dari tingkat Ordo hingga Unit.
Klasifikasi kesesuaian lahan merupakan kegiatan pengelompokan atau pencocokan (matching) antara kualitas lahan dan indikator penggunaan lahan sesuai tujuan yang diinginkan. Kesesuaian lahan ini dapat dipakai untuk menentukan kesesuaian lahan secara kualitatif maupun kuantitatif. Pengklasifikasian lahan dilakukan tergantung pada data yang tersedia — misalnya untuk permukiman, penilaian dilakukan secara kualitatif tanpa angka (Hardjowigeno, 1976).
Dalam melakukan klasifikasi lahan, struktur klasifikasi kesesuaian lahan dibedakan menurut tingkatannya (FAO, 1976). Tingkatan klasifikasi lahan dibedakan menjadi 4 tingkat yaitu: Ordo, Kelas, Subkelas, dan Unit. Struktur ini dibuat tergantung pada tujuan, skala, dan intensitas penelitian yang dilakukan.
| # | Tingkatan | Informasi yang Diberikan |
|---|---|---|
| 1 | Ordo | Menginformasikan jenis kesesuaian (sesuai / tidak sesuai) |
| 2 | Kelas | Menginformasikan tingkat kesesuaian dalam Ordo |
| 3 | Subkelas | Menginformasikan jenis batasan / faktor penghalang dalam Kelas |
| 4 | Unit | Menginformasikan perbedaan kecil antar subkelas |
1 — Klasifikasi Tingkat Ordo
Ordo dalam klasifikasi lahan menjelaskan keadaan kesesuaian secara general. Tingkatan ordo menjawab pertanyaan: apakah suatu lahan sesuai atau tidak sesuai untuk tujuan tertentu? Ordo kesesuaian lahan dibedakan menjadi tiga:
| Simbol | Nama | Keterangan |
|---|---|---|
| S | Suitable (Sesuai) | Lahan dapat digunakan jangka panjang tanpa dampak negatif berarti. |
| Sc | Conditionally Suitable | Lahan dapat digunakan namun memerlukan perlakuan khusus. |
| N | Not Suitable (Tidak Sesuai) | Lahan tidak sesuai dan memiliki hambatan yang mencegah penggunaannya. |
2 — Klasifikasi Tingkat Kelas
Kelas merupakan turunan Ordo yang menunjukkan tingkatan kesesuaian, disimbolkan dengan angka. Klasifikasi berbeda berdasarkan skala pemetaan:
- Skala semi detail (1:25.000 – 1:50.000): Ordo S dibagi menjadi S1, S2, S3; Ordo N menjadi N1 dan N2.
- Skala tinjau (1:100.000 – 1:250.000): Tiga kelas: Sesuai (S), Sesuai Bersyarat (CS), dan Tidak Sesuai (N).
Tidak ada faktor pembatas berarti; dapat digunakan secara berkelanjutan.
Ada faktor pembatas yang berpengaruh terhadap produktivitas, namun masih dapat diatasi.
Faktor pembatas berat; memerlukan modal tinggi dan intervensi stakeholder.
Faktor pembatas sangat besar, masih bisa diolah dengan modal besar.
Faktor pembatas permanen; biasanya diperuntukkan sebagai lahan lestari.
3 — Klasifikasi Tingkat Subkelas
Subkelas memberikan informasi mengenai jenis batasan pada suatu lahan — seperti kekurangan kelembapan atau bahaya erosi. Subkelas diberi simbol huruf kecil dengan signifikansi mnemonik, contohnya:
Ada dua pedoman dalam menentukan subkelas: (1) jumlah subkelas dijaga seminimal mungkin sehingga perbedaan kelas lahan mudah dipahami; dan (2) satu atau dua huruf dalam simbol biasanya sudah cukup untuk mencerminkan batasan yang ada. Jika dua batasan memiliki bobot yang sama, keduanya dapat dimasukkan bersama.
4 — Klasifikasi Tingkat Unit
Unit merupakan turunan dari Subkelas. Unit-unit dalam subkelas memiliki tingkat indikator kesesuaian yang sama di tingkat kelas dan jenis keterbatasan yang serupa di tingkat subkelas. Perbedaan antar unit terletak pada karakteristik atau aspek-aspek kecil dari indikator.
S2e-1 S2e-2
Referensi: FAO. (1976). A Framework for Land Evaluation. Soils Bulletin 32. Rome. | Hardjowigeno, S. (1976).
