Pedoman Klasifikasi Kesesuaian Lahan

Klasifikasi kesesuaian lahan merupakan kegiatan pengelompokan atau pencocokan (matching) antara kualitas lahan dan indikator penggunaan lahan sesuai tujuan yang diinginkan. Kesesuaian lahan ini dapat dipakai untuk menentukan kesesuaian lahan secara kualitatif maupun kuantitatif. Pengklasifikasian lahan  dilakukan tergantung pada data yang tersedia. Contohnya pada klasifikasi kesesuaian lahan untuk permukiman, klasifikasi kesesuaian lahan dilakukan secara kualitatif. Hal ini dikarenakan penilaian kesesuaian lahan ditentukan berdasarkan penilaian karakteristik (kualitas) lahan secara kualitatif (tidak dengan angka-angka) (Hardjowigeno, 1976 dengan pengubahan seperlunya) .

Dalam melakukan klasifikasi lahan, struktur klasifikasi kesesuaian lahan dibedakan menurut tingkatannya (FAO, 1976). Tingkatan klasifikasi lahan dibedakan menjadi 4 tingkat yaitu tingkat Ordo, Kelas, Subkelas, dan Unit. Pengelompokan struktur klasifikasi kesesuaian lahan ini bertujuan untuk mengenali kategori yang sama, dalam setiap jenis klasifikasi. Struktur ini dibuat tergantung pada tujuan, skala, dan intensitas penelitian yang dilakukan.

Pedoman Klasifikasi Kesesuaian Lahan
Stuktur Klasifikasi Lahan. Sumber : https://www.fao.org/3/x5310e/x5310e04.htm

Ordo dalam klasifikasi penggunaan lahan menjelaskan keadaan kesesuaian lahan secara general. Tingkatan ordo menjawab pertanyaan terkait apakah suatu lahan sesuai atau tidak sesuai untuk tujuan/penggunaan tertentu. 

 Klasifikasi Lahan Tingkat Ordo

Pada tingkat Ordo kesesuaian lahan dibedakan menjadi 3 antara lain lahan yang sesuai (S = suitable/sesuai), lahan sesuai, namun dengan kondisi khusus (Sc= Conditionally Suitable/sesuai, dengan kondisi tertentu), dan lahan yang tidak sesuai (N= Not Suitable/tidak sesuai).

1 Kesesuaian Lahan Tingkat Ordo menginformasikan jenis kesesuaian
2 Kesesuaian Lahan Tingkat Kelas menginformasikan tingkat kesesuaian dalam Ordo
3 Kesesuaian Lahan Tingkat Sub-Kelas menginformasikan jenis batasan/indikator penghalang atau kebutuhan perbaikan suatu lahan dalam Kelas
4 Kesesuaian Lahan Tingkat Unit menginformasikan perbedaan-perbedaan kecil dalam Sub-kelas

Lahan yang termasuk pada ordo S atau sesuai merupakan lahan yang dapat digunakan dalam jangka waktu lama, sesuai dengan indikator, dan tidak terbatas pada penggunaan tertentu yang telah dipertimbangkan sebelumnya. Lahan yang diklasifikasikan dalam ordo ini, tidak akan memberikan dampak negatif saat digunakan. Lahan yang diklasifikasikan dalam ordo Sc, merupakan lahan yang dapat digunakan namun harus melalui perlakuan khusus agar meminimalkan dampak negatif. Sedangkan lahan yang diklasifikasikan pada ordo N atau tidak sesuai, merupakan lahan yang tidak sesuai dengan indikator-indikator penggunaan lahan serta memiliki kesulitan-kesulitan yang sedemikian rupa sehingga menghambat penggunaan atau bahkan mencegah penggunaannya untuk suatu tujuan.

 Klasifikasi Lahan Tingkat Kelas

Kelas dalam klasifikasi penggunaan lahan, merupakan kegiatan pengklasifikasian kesesuaian lahan dalam turunan ordo yang menunjukkan tingkatan kesesuaian suatu lahan disimbolkan dengan angka. Tingaktan kelas dalam klasifikasi penggunaan lahan didasarkan pada detail data yang tersedia pada masing-masing skala pemetaan, tingkatan kelas kesesuaian lahan ini dibedakan sebagai berikut: 

  1. Klasifikasi penggunaan lahan untuk pemetaan tingkat skala semi detail (skala 1:25.000-1:50.000).  Kelas lahan yang tergolong ordo lahan S (sesuai) digolongkan ke dalam tiga kelas yang berbeda, penggolongan ini diberikan simbol berupa penomoran angka, seperti lahan sangat sesuai (S1), cukup sesuai (S2), dan sesuai marginal (S3). Sedangkan lahan yang tergolong ordo tidak sesuai (N) kelasnya digolongkan dalam dua kelas dengan penomoran angka, seperti N1 (tidak sesuai saat ini) dan N2 (tidak sesuai untuk seterusnya). 
  2. Klasifikasi penggunaan lahan untuk pemetaan tingkat skala tinjau (skala 1:100.000-1:250.000)  kelas digolongkan menjadi 3 Kelas dengan penomoran angka, yaitu sesuai (S), sesuai bersyarat (CS), dan tidak sesuai (N).
    Kelas S1 (sangat sesuai) diartikan sebagai lahan yang tidak memiliki faktor pembatas yang berarti atau dapat digunakan secara berkelanjutan. Faktor-faktor pembatas yang bersifat minor/memiliki dampak negatif yang rendah dan tidak mempengaruhi produktivitas lahan secara nyata.
    Kelas S2 (cukup sesuai) diartikan sebagai lahan yang memiliki faktor pembatas. Faktor pembatas ini berpengaruh terhadap produktivitasnya lahan, sehingga memerlukan tambahan masukan. Faktor pembatas ini biasanya masih dapat diatasi.
    Kelas S3 (sesuai mariginal) diartikan sebagai lahan yang memiliki faktor pembatas yang berat. Faktor pembatas ini sangat berpengaruh terhadap produktivitas lahan. Sehingga memerlukan tambahan lebih banyak daripada lahan tergolong S2. Untuk mengatasi faktor-faktor pembatas pada klasifikasi lahan kelas S3 membutuhkan modal tinggi. Sehingga perlu adanya bantuan atau campur tangan (intervensi) pihak stakeholder/pemangku kepentingan. Seperti pemerintah pihak swasta.
    Kelas N1 (tidak sesuai pada saat ini) diartikan sebagai lahan yang memiliki faktor pembatas yang sangat besar. Namun lahan pada kelas ini masih dapat digunakan, jika telah mengalami pengolahan dengan modal yang besar.
    Kelas N2 (tidak sesuai untuk selamanya) diartikan sebagai lahan yang memiliki faktor pembatas yang permanen. Sehingga lahan pada kelas ini tidak memungkinkan untuk pemanfaatan lahan dengan tujuan tertentu jangka waktu yang sangat lama. Biasanya lahan pada kelas N2 dimanfaatkan untuk lahan lestari.

 Klasifikasi Lahan Tingkat Subkelas

Subkelas pada kesesuaian lahan merupakan pengolongan jenis lahan pada tingkatan setelah kelas. Subkelas dalam klasifikasi kesesuaian lahan memberikan informasi mengenai jenis batasan/kekurangan pada suatu lahan, seperti kekurangan kelembapan dan bahaya erosi. Batasan tersebut  dibedakan berdasarkan kualitas dan karakteristik lahan (sifat-sifat tanah dan lingkungan fisik lainnya) yang menjadi faktor pembatas terberat. Sedangkan subkelas merupakan pembagian tingkat lanjut dari kelas berdasarkan atas besarnya faktor pembatas.

Subkelas pada klasifikasi kesesuaian lahan diberi simbol berupa huruf kecil dengan signifikansi mnemonik, seperti S2m, S2e, S3me. Terdapat dua pedoman dalam menentukan subkelas, yaitu :

  1.  Jumlah subkelas harus dijaga seminimal mungkin. Sehingga akan membedakan yang signifikan dalam kelas lahan, serta persyaratan, pengelolaan, atau potensi perbakiannya mudah dipahami.
  2. Jumlah batasan sesedikit apapun harus tetap digunakan dalam subkelas. ungkin harus digunakan dalam simbol untuk setiap subkelas. Satu atau dua huruf dalam simbol biasanya cukup

Jika dua batasan dalam subkelas memiliki berat yang sama, keduanya dapat dimasukan. Contohnya indikator tanah dalam Ordo Tidak Sesuai (N) dapat dibagi menjadi subkelas kesesuaian menurut jenis batasannya, misal N1m, N1me, N1m. Meskipun ini tidak penting lahan dalam klasifikasi (N) tidak sesuai dapat dilakukan pengelolaan serta lahan tersebut tidak dapat lagi diturunkan menjadi tingkatan unit-unit.

 Klasifikasi Lahan Tingkat Unit

Satuan Kesesuaian Lahan Unit merupakan turunan dari subkelas. Unit-unit dalam subkelas memiliki tingkat indikator kesesuaian yang sama di tingkat kelas dan jenis keterbatasan yang serupa di tingkat subkelas. Unit-unit dalam turunan subkelas berbeda satu sama lain dalam karakteristik atau dalam aspek-aspek kecil dari indikator. Informasi yang diberikan memungkinkan interpretasi suatu lahan secara lebih rinci dapat digunakan pada perencanaan di bidang pertanian. Unit pada klasifikasi kesesuaian lahan di simbolkan dengan angka setelah tanda hubung (-), seperti S2e-1, S2e-2.