Definisi Wilayah (Region) serta Contohnya

Definisi dan Konsep Wilayah (Region) 

Wilayah diartikan sebagai unit geografi dengan batas-batas spesifik (tertentu) yang komponen-komponennya memiliki arti di dalam pendeskripsian perencanaan dan pengelolaan sumber daya pembangunan. Batasan wilayah tidak selalu bersifat fisik. Batasan wilayah dapat juga berupa interaksi antar manusia (sosial budaya) dalam batasan geografi. Berdasarkan tipenya wilayah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu wilayah formal dan fungsional. Sedangkan wilayah berdasarkan konsep dibedakan menjadi empat, yaitu wilayah homogen, nodal, perencanaan, dan administratif.

Definisi Wilayah (Region) serta Contohnya

A. Tipe Wilayah

Wilayah seringkali bersifat dinamis yang mengacu pada unit geografis dengan batasan tertentu. Suatau wilayah menekankan adanya hubungan antara manusia dengan sumber daya yang ada di dalamnya. Secara umum wilayah diartikan sebagai suatu unit geografi yang lebih besar dari sebuah kota serta memiliki ciri-ciri budaya dan/atau fisik pemersatu/sama. 

Definisi Wilayah (Region) serta Contohnya
Wilayah juga memiliki hierarki yang membedakan antara tingkatan-tingaktannya. Tingkatan atau struktur pada wilayah, yaitu node (titik), area, dan zona. Dimana setiap tingkatan saling berhubungan. Contohnya seperti gambar berikut ini.

  • Node merupakan bagian dari wilayah. Di sini polarisasi atau sentralisasi Fenomena ditemukan. Node berkembang di wilayah fungsional (heterogen) tetapi tidak teridentifikasi di wilayah formal (homogen). Hal ini dikarenakan node tidak memiliki pembeda atau karakteristiknya masih seragam
  • Zona merupakan segmen ruang/bagian dari suatu area di mana intensitas fenomena yang ada telah beragam (heterogen).
  • Area dalam wilayah merupakan gambungan karakterisitik yang telah beragam. Di dalamnya juga termasuk node, dan zona. Pada bagian luar area terdapat garis transisi, garis ini digunakan untuk membedakan area satu dengan lainnya.

Wilayah juga terkadang disebut sebagai “dunia di dalam dunia” karena ahli geografi mencoba mengkategorikan dan memaknai wilayah yang luas. Sehingga mereka mencari karakteristik umum yang ditemukan di setiap wilayah.

Namun, konsep ini kontroversial karena ahli geografi memperdebatkan apa sebenarnya yang membuat suatu wilayah. Oleh karena itu, sebagai unit dasar penelitian geografis dan penyederhanaan yang diperlukan dunia untuk pemeriksaan geografis. Para ahli geografi telah mengidentifikasi tiga jenis wilayah, yaitu wilayah formal, wilayah fungsional, dan wilayah vernakular

1.    Wilayah Formal (Wilayah Homogen)

Wilayah formal merupakan wilayah dengan tingkat konsistensi atribut budaya atau fisik tertentu yang tinggi Wilayah formal dapat dikatakan sebagai wilayah yang seragam atau homogen. Hal ini dikarenakan suatau wilayah itu memiliki atribut atau sifat yang sama, seperti bahasa, iklim, atau sistem politik. Pengklasifikasian suatu wilayah menjadi wilayah formal digunakan untuk menentukan dan menguraikan batas-batas wilayah politik, budaya, dan ekonomi. Wilayah formal juga dapat menggambarkan setiap lokasi geografis dengan batas-batas jelas yang wilayahnya ditetapkan, sehingga tidak ada perselisihan mengenai wilayah yang ditempati oleh suatu wilayah formal.

Contoh wilayah formal bervariasi, wilayah formal didasarkan pada kesamaan atau homogenitas tertentu, misalnya wilayah dataran tinggi, wilayah karst, wilayah tropis, dan wilayah pesisir. Wilayah formal juga terdapat di berbagai negara, seperti Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, atau wilayah linguistik suatu negara. Contoh spesifik yang mungkin dapat dilihat, seperti wilayah berbahasa China di Semarang, wilayah penghasil susu di Boyolali, atau batas administrasi yang membatasi negara dan provinsi

2.    Wilayah Fungsional (Wilayah Heterogen)

Wilayah fungsional dalam geografi merupakan wilayah yang berpusat pada simpul, titik fokus, atau pusat yang dikelilingi oleh hubungan interkoneksi dengan wilayah disekitarnya. Pusat utama di wilayah fungsional ditujukan untuk aktivitas sosial, politik, atau ekonomi yang berhubungan dengan perdagangan, komunikasi, atau transportasi. Dengan kata lain, wilayah fungsional memiliki serangkaian aktivitas atau interaksi tertentu yang terjadi di dalamnya. Aktivitas ini dapat digambarkan dengan ikatan simpul dimana kota pusat dihubungkan dengan kota penyangga.Simpul utama (kota peyangga) memiliki pengaruh ekonomi dan sosial yang kurang terlihat di daerah-daerah yang lebih jauh darinya.

Ciri lainnya dari wilayah fungsional, yaitu adanya hubungan antara pusat kegiatan secara fungsional. Kelompok wilayah fungsional ini digunakan untuk membedakan wilayah. Dimana secara sederhana perbedaanya didasarkan pada pergerakan penduduk dalam kegiatan sehari-hari, seperti wilayah penyerap (demand) dan wilayah penyedia (supply).

Contoh wilayah fungsional, misalnya wilayah yang diatur di sekitar sesuatu yang sentral, seperti kota. Contohnya wilayah Jakarta, Bogor, Depok Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Distribusi layanannya terbatas pada wilayah tertentu, yang merupakan wilayah fungsional atau nodal utamanya.

3.    Wilayah Vernacular (Wilayah Perseptual)

Wilayah perseptual (presepsi) atau vernakular ditentukan oleh perasaan dan prasangka yang mungkin benar atau tidak. Wilayah vernakular dapat menjadi gambaran tentang peta mental seseorang. Hal ini dikarenakan wilayah tersebut tidak memiliki dasar yang pasti dalam batasannya. Wilayah vernakular juga dapat dikaitkan dengan kesepakatan-kesepakatan yang ada di masyarakat, seperti budaya.

Ini dapat dilihat dari sudut padangan masyarakat memberikan batasan wilayah berdasarkan kondisi keunikan wilayahnya, seperti Venice van Java, Kota Pahlawan, Desa Penari, Kota Batik, Kota berhantu, atau lain sebagainya. Saat memberi label/nama wilayah terdapat persepsi atau asumsi umum yang dibuat tentang tempat atau orang.

Wilayah Vernacular sangat berkaitan dengan budaya. Ciri-ciri wilayah vernakular yaitu sebagai berikut.

  1. Wilayah berdasarkan persepsi, pikiran, ataupun emosional sejumlah orang/kelompok
  2. Berkaitan erat dengan identitas budaya
  3. Tidak memiliki batasan yang jelas

Lebih sederhananya wilayah perseptual atau vernakular dijelaskan sebagai berikut. Jika kalian pergi ke sebuah wilayah dan mengatakan, “kota ini sangat tradisional, dan tidak terdapat peluang kerja” itu menunjuk ke wilayah persepsi. Namun, orang lain dapat memiliki sudut pandang yang berbeda ketika melihat tempat yang sama. Orang lain juga dapat mengatakan, “kota ini memiliki peluang untuk berkembang dan terdapat peluang bisnis baru di kota ini”.

Sehingga wilayah perseptual tidak dapat diartikan secara harfiah dan wilayah ini tidak dapat didefinisikan secara eksplisit. Geografer sering memiliki pandangan berbeda pada batasan wilayah perseps. Hal ini sepenuhnya tergantung pada perspektif pribadi dan berdasarkan pendapat daripada fakta. Dalam beberapa kasus wilayah perseptual dapat bertentangan dengan fakta. 


B. Klasifikasi Wilayah Berdasarkan Konsepnya

Definisi Wilayah (Region) serta Contohnya
Terdapat beberapa klasfikiasi yang dapat menguraikan atau menjelaskan wilayah yang ada di permukaan bumi, yaitu berdasarkan konsep, berdasarkan ukuran, dan berdasarkan asal terbentuknya. Beberapa geograf juga menggunakan klasfikasi wilayah berdasarkan faktor pembentuknya, seperti wilayah fisik dan wilayah sosial. 

Selain itu juga terdapat klasifikasi wilayah berdasarkan artikel terbitan Geographical Association pada tahun 1937 yang berjudul Classification of Regions of the World. Namun, artikel tentang klasifikasi wilayah ini belum dapat ditemukan oleh penulis artikel ini. Sehingga klasifikasi wilayah berdasarkan  kami tidak mencantumkannya Geographical Association pada tahun 1937 tidak kami cantumkan.

Berikut ini penjelasan klasifikasi wilayah yang sering digunakan dalam analisis ilmiah.

1.    Wilayah Berdasarkan Konsep

a.    Wilayah berdasarkan Konsep Homogenitas

Wilayah homogen merupakan wilayah yang memiliki karakteristik yang sama. Sifat dan ciri wilayah homogen yaitu dalam hal ekonomi (daerah dengan struktur produksi dan konsumsi yang homogen, geografi (wilayah yang memiliki kesamaan iklim atau topografi), agama, suku, dan lainnya. Batas wilayah homogen didasarkan pada keseragaman secara internal (internal uniform). Wilayah berdasarkan konsep homogenitas dapat dibedakan secara umum, yaitu wilayah natural, wilayah kultural, dan wilayah ekonomi.

  • Natural Region, yaitu pembagian wilayah berdasarkan kondisi alamnya/kondisi fisik. Hal ini didasarkan pada konsep diferensiasi area, dimana setiap wilayah memiliki kondisi fisik yang berbeda-beda.

    Definisi Wilayah (Region) serta Contohnya

  • Cultural Region, yaitu pembagian wilayah berdasarkan aktivitas manusia atau kebudayaan penduduknya. Kebudayaan/aktivitas yang berbeda di setiap wilayah secara langsung disebabkan oleh kondisi alam/kondisi fisik.
    Definisi Wilayah (Region) serta Contohnya
  • Economic Region, yaitu pembagian wilayah berdasarkan tingkatan ekonominya. Penilaian tingkatan ekonomi suatu wilayah menggunakan indikator yang telah disepakati

    Definisi Wilayah (Region) serta Contohnya

b.    Wilayah berdasarkan Konsep Keterkaitan (Nodal)

Wilayah nodal merupakan wilayah-wilayah yang mempunyai hubungan keterkaitan dan ketergantungan. Keterkaitan dan ketergantungan ini terjadi antara wilayah pusat (inti) dan wilayah belakangnya/pendukung (hinterland). Tingkat keterkaitan tersebut diukur berdasarkan arus lalu lintas barang, penduduk, informasi, dan modal. Batas wilayah berdasarkan konsep keterkaitan (nodal) ditentukan dari sejauh mana pengaruh dari pusat kegiatan ke area kegiatan ekonomi lainnya.

Definisi Wilayah (Region) serta Contohnya

Contoh wilayah berdasarkan konsep keterkaitan ini, yaitu kawasan metropolitan di Indonesia. Seperti kawasan-kawasan berikut ini :

  • Wilayah Metropolitan Jabodetakbek (Jakarta, Bogor, Depok Tangerang, Bekasi), 
  • Wilayah Metropolitan Gerbangkertosusila (Gersik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan)
  • Wilayah Metropolitan Bimindo (Bitung, Minahasa, Manado)
  • Wilayah Metropolitan Mebidang (Kota Medan, Kota Binjai, dan Kabupaten Deli Serdang)
  • Wilayah Metropolitan Palapa (Padang, Lubuk Alung, Pariaman)
  • Wilayah Metropolitan Rebana (Cirebon,Patimban,Majalengka)
  • Wilayah Metropolitan Subosukawonosraten (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan. Klaten)
  • Wilayah metropolitan lainnya.

2.    Wilayah Berdasarkan Skala/Ukuran

Wilayah juga dapat diklasifikasikan berdasarkan skala/ukuran. Pengklasifikasian wilayah ini digunakan untuk Perencanaan Multi-Level. Wilayah berdasarkan skala/ukuran dapat dibedakan menjadi wilayah makro, meso, mikro, dan lokal. Penjelasannya sebagai berikut :
  • Tingkat Makro-Makro, merupakan klasifikasi wilayah yang mempelajari seluruh bangsa atau negara 
  • Tingkat Makro merupakan klasifikasi wilayah yang mempelajari negara bagian dalam suatu negara atau di Indonesia disebut dengan provinsi.
  • Tingkat Meso, merupakan klasifikasi wilayah yang mempelajari distrik atau kabupaten
  • Tingkat Mikro, merupakan klasifikasi wilayah yang mempelajari kota/desa
  • Tingkat Mikro Minor, merupakan klasifikasi wilayah yangmempelajari sektor atau rumah tangga tertentu

3.    Wilayah Berdasarkan Asal Terbentuknya

Wilayah juga dapat diklasifikasikan berdasarkan asal terbentuknya. Hal ini mengacu pada kebijakan atau kebudayaan yang ada di suatu wilayah. Sehingga pengklasifikasian wilayah dapat memiliki batasan, namun di suatu kondisi juga dapat tidak memiliki batasan yang jelas. Wilayah berdasarkan asal terbentuknya dibedakan menjadi 3, yaitu wilayah naif (naive), wilayah administrasi, dan wilayah perencanaan.

Masing-masing wilayah memiliki cirikhas masing-masing, untuk lebih jelasnya sebagai berikut :

a.    Wilayah Naif (Naive)

Wilayah yang diberikan secara naif mengacu pada wilayah yang diakui oleh masyarakat. Baik masyarakat dari dalam wilayah ataupun luar wilayah. Wilayah naif tidak memiliki batasan tegas yang pasti. Hal ini dikarenakan wilayah naif didasarkan pada budaya atau sejarah bersama dan rasa memiliki di antara masyarakat. 

Salah satu contoh, misalnya suatu wilayah memiliki batas yang mudah berubah seperti rawa. Ketika rawa mengalami sedimentasi maka batas-batas wilayah tersebut akan berubah. Contoh lebih sederhananya, yaitu pembuatan peta mental/mental map/denah. Wilayah yang digambarkan pada peta mental/mental map/denah termasuk kedalam wilayah naif. Karena penggambaran wilayah ini tidak memiliki batasan-batasan yang tegas.

b.    Wilayah Administrasi

Wilayah Berdasarkan Asal Terbentuknya lainnya adalah wilayah administrasi. Dikutip dari Prisyarsono & Sahara, 2007, wilayah administrasi adalah wilayah dengan batasan-batasan yang telah ditentukan. Batasan dibuat berdasarkan kepentingan administrasi pemerintah atau politik, seperti provinsi, kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, dan RW ataupun RT.

c.    Wilayah Perencanaan

Wilayah perencanaan merupakan wilayah yang memperlihatkan kesatuan keputusan ekonomi. Wilayah perencanaan di tentukan oleh pembuatan kebijakan seperti pemerintah. Wilayah perencanaan memiliki luasan yang cukup besar untuk memungkinkan perubahan penting dalam penyebaran penduduk dan kesempatan kerja. Contohnya Kawasan Ekonomi Khusus yang ada di Indonesia (KEK Mandalika, KEK Sei Mangkei, KEK Tanjung Lesung, KEK Palu, dan lainnya), dan Daerah Aliran Sungai Pemali (DAS Pemali, DAS Bengawan, dan lainnya).

C. Contoh Penentuan Wilayah

Penentuan suatu ruang menjadi wilayah-wilayah yang telah diklasifikasikan dapat mempermudah pengambilan kebijakan. Sehingga nantinya kebijakan yang dibuat dapat meminimalkan dampak bagi mahkluk hidup di sekitarnya.

Berikut ini beberapa contoh analisis penentuan wilayah. Analisis penentuan wilayah ini akan menekankan pada karakteristik, pengklasifikasian wilayah alami/natural dan buatan, serta pengklasifikasian wilayah menurut Geographical Association. Untuk lebih jelasnya

1.    Wilayah Pesisir

Definisi Wilayah (Region) serta Contohnya

Informasi yang didapatkan dari gambar di atas, yaitu kenampakan berupa pesisir. 

  • Terdapat beberapa karakteristik yang dimiliki, yaitu berupa wilayah daratan yang berbatasan dengan lautan, penggunaan lahan didominasi tambak dan hutan bakau, memiliki suhu rata-rata 29°C, dan lainnya.
  • Klasifikasi wilayah alami/natural dan kultural berdasarkan gambar di atas dapat dilihat sebagai berikut. Gambar pesisir di atas memiliki klasifikasi wilayah alami/natural dan kultural. Wilayah alami yang ada, yaitu lautan, hutan bakau, tegalan, dan perbukitan. Sedangkan wilayah kultural yang ada, yaitu tambak.
    Hal ini dikarenakan tambak merupakan buatan manusia. Tambak digunakan manusia untuk melakukan budidaya.
  • Klasifikasi wilayah menurut Geographical Association. Klasifikasi wilayah menurut Geographical Association dibedakan menjadi 4, yaitu generic, specific, uniform, dan nodal.
    Klasifikasi menurut generic region (wilayah general), gambar di atas jika berada di Indonesia memiliki iklim tropis, topografi yang landai, vegetasi berupa pohon bakau dan kelapa, serta fisiografi berupa pantai dan pesisir.
    Klasifikasi menurut spesifik region (wilayah spesifik), gambar di atas merupakan pesisir dimana masyarakatnya bekerja sebagai petani tambak.
    Klasifikasi menurut uniform region (wilayah seragam), gambar di atas dibedakan menjadi pertanian tambak dan lautan. Dimana masing-masing wilayah memiliki unsur-unsur yang membentuk wilayah
    Klasifikasi menurut nodal region (wilayah nodal), gambar di atas merupakan wilayah pendukung. Dimana hasil pertanian tambak dihasilakan dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan wilayah inti.

Definisi Wilayah (Region) serta Contohnya

2.    Wilayah Dataran Rendah

Definisi Wilayah (Region) serta Contohnya

nformasi yang didapatkan dari gambar di atas, yaitu kenampakan berupa dataran rendah. 

  • Terdapat beberapa karakteristik yang dimiliki, yaitu berupa wilayah dataran rendah, penggunaan lahan didominasi sawah dan permukiman, memiliki suhu rata-rata 27°C, dan lainnya.
  • Klasifikasi wilayah alami/natural dan kultural berdasarkan gambar di atas dapat dilihat sebagai berikut. Gambar di atas memiliki klasifikasi wilayah alami/natural dan kultural. Wilayah alami yang ada, yaitu sawah, hutan , tegalan, dan sungai. Sedangkan wilayah kultural yang ada, yaitu permukiman.
    Hal ini dikarenakan permukiman merupakan buatan manusia. Permukiman  digunakan manusia untuk tempat tinggal.
  • Klasifikasi wilayah menurut Geographical Association. Klasifikasi wilayah menurut Geographical Association dibedakan menjadi 4, yaitu generic, specific, uniform, dan nodal.
    Klasifikasi menurut generic region (wilayah general), gambar di atas jika berada di Indonesia memiliki iklim tropis, topografi yang landai cenderung agak curam, vegetasi padi dan pohon pinus, serta fisiografi berupa dataran rendah.
    Klasifikasi menurut spesifik region (wilayah spesifik), gambar di atas merupakan dataran rendah dimana masyarakatnya bekerja sebagai petani sawah.
    Klasifikasi menurut uniform region (wilayah seragam), gambar di atas dibedakan menjadi pertanian sawah dan permukiman. Dimana masing-masing wilayah memiliki unsur-unsur yang membentuk wilayah
    Klasifikasi menurut nodal region (wilayah nodal), gambar di atas merupakan wilayah pendukung. Dimana hasil pertanian, seperti padi, jagung , dan sebagainya digunakan untuk memenuhi kebutuhan wilayah inti.

Definisi Wilayah (Region) serta Contohnya