Kota-kota besar di Indonesia mengalami pertumbuhan penduduk yang pesat akibat urbanisasi, perkembangan industri, serta konsentrasi pusat pemerintahan dan pendidikan. Kepadatan penduduk dihitung berdasarkan jumlah jiwa per kilometer persegi (jiwa/km²). Berikut lima kota dengan tingkat kepadatan tinggi di Indonesia beserta sebaran konsentrasi wilayah terpadatnya.
A. Klasifikasi Kepadatan Penduduk (berdasarkan jumlah jiwa per km²)
Kepadatan
penduduk dihitung dari jumlah penduduk dibagi luas wilayah (jiwa/km²).
Dalam kajian geografi, klasifikasi umum yang sering digunakan adalah:
B. Kepadatan Kota di Indonesia
Berdasarkan klasifikasi tersebut, kota-kota besar di Indonesia umumnya masuk kategori sangat tinggi, karena memiliki kepadatan jauh di atas 1.000 jiwa per km²
| No | Kota | Jumlah Penduduk (±2023/2024) | Luas (km²) | Kepadatan (jiwa/km²) | Konsentrasi Wilayah Terpadat |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Jakarta | ±10.600.000 jiwa | 661 | ±16.000 | Jakarta Pusat (Tanah Abang, Kemayoran), Jakarta Barat (Tambora), Jakarta Timur (Cakung, Duren Sawit) |
| 2 | Bandung | ±2.550.000 jiwa | 167 | ±15.000 | Bojongloa Kaler, Astana Anyar, Kiaracondong, Coblong |
| 3 | Bekasi (Kota) | ±2.650.000 jiwa | 213 | ±12.000 | Bekasi Timur, Bekasi Barat, Pondok Gede, Jatiasih |
| 4 | Depok | ±2.150.000 jiwa | 200 | ±11.000 | Beji, Sukmajaya, Pancoran Mas, Cimanggis |
| 5 | Surabaya | ±3.150.000 jiwa | 336 | ±9.500 | Tambaksari, Simokerto, Sawahan, Kenjeran |
1. Jakarta
- Jumlah penduduk (2023–2024): ±10,6 juta jiwa
- Luas wilayah: ±661 km²
- Kepadatan rata-rata: ±16.000 jiwa/km²
Dengan angka tersebut, Jakarta termasuk dalam klasifikasi sangat tinggi karena jauh melampaui 1.000 jiwa/km². Bahkan, kepadatan Jakarta termasuk yang tertinggi di Indonesia pada tingkat provinsi/kota administratif.
Konsentrasi kepadatan tertinggi berada di Jakarta Pusat (Tanah Abang, Kemayoran), Jakarta Barat (Tambora), dan sebagian Jakarta Timur. Wilayah-wilayah ini didominasi permukiman padat, pusat perdagangan, serta hunian vertikal.
Dampaknya terlihat pada kemacetan, tekanan infrastruktur, kebutuhan transportasi massal, serta meningkatnya pembangunan apartemen dan rumah susun.
2. Bandung
- Jumlah penduduk: ±2,5–2,6 juta jiwa
- Luas wilayah: ±167 km²
- Kepadatan rata-rata: ±15.000 jiwa/km²
Bandung juga masuk dalam klasifikasi sangat tinggi. Luas wilayah yang relatif kecil membuat kepadatan kota ini melonjak tajam.
Kepadatan terkonsentrasi di Kecamatan Bojongloa Kaler, Astana Anyar, Kiaracondong, dan Coblong (kawasan kampus). Permukiman rapat serta kos-kosan mahasiswa menjadi ciri utama kawasan ini.
Dampak kepadatan antara lain kemacetan di pusat kota, keterbatasan ruang terbuka hijau, dan tekanan pada sistem drainase.
3. Bekasi (Kota Bekasi)
- Jumlah penduduk: ±2,6–2,7 juta jiwa
- Luas wilayah: ±213 km²
- Kepadatan rata-rata: ±12.000 jiwa/km²
Kota Bekasi termasuk dalam klasifikasi sangat tinggi. Sebagai kota penyangga Jakarta, pertumbuhan penduduknya sangat pesat.
Kepadatan terkonsentrasi di Bekasi Timur, Bekasi Barat, Pondok Gede, dan Jatiasih. Kawasan ini berkembang sebagai pusat perumahan komuter dan dekat kawasan industri.
Dampaknya berupa kemacetan harian, beban tinggi pada jalan raya, serta meningkatnya kebutuhan fasilitas publik seperti sekolah dan rumah sakit.
4. Depok
- Jumlah penduduk: ±2,1–2,2 juta jiwa
- Luas wilayah: ±200 km²
- Kepadatan rata-rata: ±11.000 jiwa/km²
Depok juga berada dalam klasifikasi sangat tinggi. Kota ini berkembang sebagai bagian dari kawasan metropolitan Jabodetabek.
Kepadatan paling tinggi berada di Kecamatan Beji, Sukmajaya, Pancoran Mas, dan Cimanggis. Keberadaan kampus besar dan kawasan hunian komuter membuat wilayah ini sangat padat.
Dampaknya terlihat pada pertumbuhan apartemen, kemacetan di Jalan Margonda, dan kebutuhan transportasi publik yang semakin besar.
5. Surabaya
- Jumlah penduduk: ±3,1–3,2 juta jiwa
- Luas wilayah: ±336 km²
- Kepadatan rata-rata: ±9.000–10.000 jiwa/km²
Surabaya termasuk dalam klasifikasi sangat tinggi, meskipun kepadatannya lebih rendah dibanding Jakarta dan Bandung.
Konsentrasi kepadatan tertinggi berada di Tambaksari, Simokerto, Sawahan, dan Kenjeran. Wilayah ini merupakan kawasan permukiman lama dengan hunian rapat.
Dampaknya meliputi kebutuhan revitalisasi kawasan padat, peningkatan layanan sanitasi, serta pengelolaan limbah perkotaan.
C. Kesimpulan
Berdasarkan klasifikasi kepadatan penduduk, kelima kota besar tersebut termasuk dalam kategori sangat tinggi karena memiliki kepadatan jauh di atas 1.000 jiwa/km². Kepadatan ini umumnya terkonsentrasi di pusat ekonomi, kawasan perdagangan, wilayah dekat kampus, dan daerah dengan akses transportasi utama.
Fenomena ini menunjukkan bahwa urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi mendorong konsentrasi penduduk di kota-kota besar, sehingga diperlukan perencanaan tata ruang dan pembangunan berkelanjutan untuk mengurangi dampak negatifnya.


