Perbandingan Kepadatan Penduduk Rendah Negara di Dunia

Kepadatan penduduk terendah

Kepadatan penduduk menggambarkan rata-rata jumlah penduduk yang menempati setiap satu kilometer persegi wilayah. Angka ini membantu kita memahami persebaran manusia di permukaan bumi. Beberapa negara memiliki wilayah sangat luas, tetapi jumlah penduduknya relatif sedikit. Kondisi tersebut menimbulkan kepadatan penduduk yang rendah dan pola permukiman yang tidak merata. Fenomena ini menarik dikaji dalam geografi karena berkaitan erat dengan faktor iklim, bentang alam, serta perkembangan ekonomi.

A. Negara dengan Kepadatan Penduduk Rendah

Berikut pembahasan beberapa negara yang dikenal memiliki kepadatan penduduk rendah di dunia.

1. Mongolia dan Karakter Wilayah Stepa

Mongolia termasuk negara dengan kepadatan penduduk terendah di dunia. Luas wilayahnya mencapai lebih dari 1,5 juta km², sementara jumlah penduduknya sekitar 3–4 juta jiwa. Kepadatan rata-ratanya hanya sekitar 2 orang per km².

Sebagian besar wilayah Mongolia berupa padang rumput luas dan Gurun Gobi. Iklimnya ekstrem, musim dingin sangat dingin dan musim panas cukup panas. Kondisi alam tersebut membatasi aktivitas permukiman secara merata. Penduduk banyak terkonsentrasi di ibu kota Ulaanbaatar yang menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi.

2. Namibia dan Dominasi Wilayah Gurun

Namibia terletak di Afrika bagian selatan dengan kepadatan sekitar 3 orang per km². Luas wilayahnya cukup besar, tetapi jumlah penduduknya relatif sedikit.

Bentang alam Namibia didominasi Gurun Namib dan Gurun Kalahari yang kering. Ketersediaan air terbatas sehingga tidak semua wilayah cocok untuk permukiman padat. Konsentrasi penduduk lebih banyak ditemukan di wilayah utara yang lebih subur serta di sekitar ibu kota Windhoek.

3. Australia dan Konsentrasi di Pesisir

Australia memiliki luas sekitar 7,7 juta km² dan penduduk sekitar 26 juta jiwa. Kepadatan rata-ratanya hanya sekitar 3–4 orang per km².

Wilayah pedalaman Australia dikenal sebagai Outback, yaitu kawasan gurun dan semi-kering yang jarang dihuni. Sebagian besar penduduk tinggal di kota-kota pesisir seperti Sydney, Melbourne, dan Brisbane. Pesisir timur dan selatan menawarkan iklim lebih nyaman serta akses ekonomi yang lebih berkembang.

4. Islandia dan Tantangan Iklim Dingin

Islandia merupakan negara kepulauan di Atlantik Utara dengan kepadatan sekitar 3–4 orang per km². Jumlah penduduknya kurang dari 400 ribu jiwa dengan wilayah sekitar 100 ribu km².

Kondisi alamnya berciri vulkanik dan beriklim dingin. Aktivitas permukiman lebih terkonsentrasi di Reykjavik dan sekitarnya. Wilayah pedalaman relatif kosong karena suhu rendah dan kondisi alam yang kurang mendukung.

5. Kanada dan Wilayah Utara yang Jarang Dihuni

Kanada termasuk negara terluas di dunia dengan luas hampir 10 juta km². Jumlah penduduknya sekitar 40 juta jiwa sehingga kepadatannya sekitar 4 orang per km².

Wilayah utara Kanada beriklim sangat dingin dan tertutup salju dalam waktu lama. Permukiman lebih banyak berkembang di bagian selatan yang berbatasan dengan Amerika Serikat. Kota-kota besar seperti Toronto, Montreal, dan Vancouver menjadi pusat konsentrasi penduduk serta kegiatan ekonomi.


kepadatan penduduk rendah

B. Faktor yang Mempengaruhi Kepadatan Rendah

Beberapa faktor utama memengaruhi rendahnya kepadatan penduduk suatu negara. Iklim ekstrem menjadi salah satu penyebab utama, baik suhu sangat dingin maupun sangat panas. Bentang alam seperti gurun, pegunungan, dan wilayah es juga membatasi persebaran manusia. Ketersediaan air dan tingkat perkembangan ekonomi turut menentukan pola hunian.

Kepadatan
penduduk rendah tidak berarti wilayah tersebut tidak penting. Negara-negara tersebut tetap memiliki potensi sumber daya alam yang besar dan peran strategis di tingkat global.

C. Kesimpulan

Negara dengan kepadatan penduduk rendah umumnya memiliki wilayah luas serta kondisi alam yang menantang. Penduduk cenderung terkonsentrasi di wilayah tertentu yang lebih mendukung kehidupan, seperti kota besar, pesisir, atau daerah subur. Kajian tentang kepadatan penduduk membantu memahami hubungan antara manusia dan ruang, sekaligus menjadi dasar perencanaan pembangunan wilayah yang berkelanjutan.



close