Pertumbuhan bukan hanya soal menyedot. Ia juga soal memencar. Spread effect adalah sisi lain dari magnet yang memiliki kekuatan mendorong kemakmuran dari pusat menuju wilayah pinggiran.
Bayangkan kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan adalah inti magnet wilayah yang menarik sumber daya, manusia, dan modal dari daerah-daerah sekitarnya. Inilah yang disebut pusat pertumbuhan atau core dalam teori ekonomi wilayah yang digagas oleh Gunnar Myrdal.
Magnet bekerja dua arah. Ia dapat menyedot, dan juga memencar. Dari sinilah lahir dua konsep yang saling berlawanan: Backwash Effect dan Spread Effect.
Effect
Effect
A. Apa Itu Spread Effect?
Spread effect adalah dampak positif dari pertumbuhan wilayah inti terhadap wilayah di sekitarnya. Berbeda dengan backwash effect yang menyedot sumber daya dari pinggiran ke pusat, spread effect bekerja dengan cara sebaliknya mengalirkan manfaat dari kota ke daerah-daerah di sekitarnya.
Spread effect (atau trickle-down effect) terjadi ketika pertumbuhan ekonomi di wilayah inti menciptakan limpahan manfaat yang dirasakan oleh wilayah pinggiran, baik berupa permintaan hasil bumi, investasi, infrastruktur, hingga teknologi.
Gunnar Myrdal menyadari bahwa proses pembangunan tidak selalu bersifat satu arah. Setelah wilayah inti mencapai tingkat pertumbuhan tertentu, tekanan dari dalam kota — seperti kepadatan, upah tinggi, dan keterbatasan lahan — mendorong sebagian aktivitas ekonomi keluar menuju pinggiran. Inilah momen ketika spread effect mulai bekerja.
B. Unsur yang Dipengaruhi Spread Effect
Ada enam (6) aliran utama yang menjadi sarana berjalannya spread effect dari core ke periphery:
C. Faktor Pendorong Spread Effect
1. Faktor Internal dari Core
Ketika kota sudah terlalu padat dan biaya produksi meningkat, kota secara alami "mendorong" sebagian aktivitasnya keluar. Fenomena ini dikenal sebagai agglomeration diseconomies — kondisi di mana biaya aglomerasi sudah lebih besar dari manfaatnya.
2. Kebijakan Pemerintah
Desentralisasi fiskal, kawasan ekonomi khusus (KEK), dan program pembangunan desa menjadi instrumen kebijakan yang memperkuat spread effect secara terencana.
3. Kemajuan Infrastruktur Konektivitas
Jalan tol, jalur kereta api, dan akses internet yang menghubungkan kota dengan daerah membuka peluang agar manfaat pertumbuhan bisa merambat lebih jauh ke pinggiran.
"Pembangunan tidak akan merata dengan sendirinya. Ia membutuhkan kekuatan aktif — baik dari pasar maupun kebijakan — untuk mendorong manfaatnya menjangkau semua lapisan wilayah."— Terinspirasi dari pemikiran Gunnar Myrdal, Economic Theory and Under-Developed Regions (1957)
D. Spread Effect vs Backwash Effect
- Manfaat mengalir dari kota ke desa
- Meningkatkan permintaan produk lokal
- Investasi masuk ke pinggiran
- Menciptakan lapangan kerja di daerah
- Mengurangi kesenjangan antarwilayah
- Sumber daya tersedot dari desa ke kota
- Tenaga kerja produktif berpindah
- Modal usaha mengalir ke kota
- Desa stagnan, kota terus berkembang
- Memperlebar kesenjangan antarwilayah
E. Contoh Spread Effect di Indonesia
F. Syarat Agar Spread Effect Bisa Terjadi
Spread effect tidak terjadi secara otomatis. Myrdal mengingatkan bahwa dalam kondisi tertentu, backwash effect justru lebih dominan. Beberapa kondisi perlu terpenuhi:
Spread effect menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi, meski berawal dari titik-titik tertentu, memiliki potensi untuk menyebar dan mengangkat wilayah yang lebih luas. Namun, potensi ini tidak akan terwujud tanpa kebijakan yang tepat, infrastruktur yang memadai, dan kapasitas lokal yang kuat. Memperkuat spread effect berarti memastikan bahwa kemajuan kota juga menjadi sumber kekuatan bagi ribuan desa di sekitarnya.


