Soal Pilihan Ganda Kompleks Mitigasi dan Kebencanaan

BENCANA GUNUNG MELETUS

Contoh soal Mitigasi dan Kebencanaan merupakan bagian penting dalam pembelajaran Geografi yang berkaitan langsung dengan keselamatan jiwa dan kesiapsiagaan masyarakat. Materi ini mencakup jenis-jenis bencana alam, teknologi mitigasi, peran masyarakat dalam pengurangan risiko bencana, hingga tindakan tanggap darurat. Berikut disajikan 8 contoh soal beserta pembahasan yang dapat digunakan sebagai bahan belajar mandiri maupun latihan persiapan ujian.

3 Pemetaan Risiko
4 Angin & Petir
5 Abrasi
8 Tanggap Darurat
Tsunami
1
Mitigasi Bencana
Mitigasi Tsunami – Aceh 2004
Pilihan Ganda
KERUSAKAN BENCANA
Pada tahun 2004, Aceh mengalami bencana tsunami yang mengakibatkan kerugian materiil dan nonmateriil. Untuk mengurangi risiko bencana serupa, upaya yang perlu dilakukan masyarakat, yaitu ....
  • A pembangunan menara di daerah pantai
  • B memindahkan semua penduduk ke pegunungan
  • C membiarkan proses alam terjadi tanpa intervensi
  • D mengikuti edukasi tentang tanda-tanda awal tsunami
  • E menunggu bantuan pemerintah
Kunci Jawaban: D
Mitigasi bencana yang efektif bersifat proaktif dan berbasis pengetahuan. Edukasi mengenai tanda-tanda awal tsunami — seperti surutnya air laut secara tiba-tiba, getaran gempa kuat, dan suara gemuruh dari laut — memungkinkan masyarakat melakukan evakuasi mandiri sebelum gelombang tiba. Memindahkan seluruh penduduk tidak realistis, menunggu bantuan terlalu pasif, dan membiarkan proses alam berlangsung tanpa respons justru meningkatkan korban jiwa.
Likuifaksi
2
Teknologi Mitigasi
Teknologi Mitigasi Likuifaksi – Palu 2018
Pilihan Ganda
Likuifaksi di Palu pada tahun 2018 diperparah oleh karakteristik tanah berpasir jenuh air. Untuk mengurangi risiko likuifaksi, perlu diterapkan teknologi mitigasi. Berikut contoh teknologi mitigasi likuifaksi, yaitu ....
  • A membangun permukiman vertikal (vertical housing)
  • B penguatan tanah (soil improvement)
  • C pencampuran tanah dengan tanah liat (soil mixing)
  • D memperbanyak vegetasi di sekitar rumah
  • E reklamasi pantai untuk menambah luas daratan
Kunci Jawaban: B
Likuifaksi terjadi ketika tanah berpasir jenuh air kehilangan kekuatan dan berperilaku seperti cairan akibat getaran gempa. Teknologi soil improvement (penguatan tanah) adalah solusi teknis yang langsung menyasar akar masalahnya, yaitu meningkatkan kepadatan dan kekuatan tanah melalui pemadatan dinamis, grouting, atau drainase vertikal. Pilihan C (soil mixing) merupakan salah satu teknik dalam kategori soil improvement, namun jawaban B lebih tepat sebagai istilah umum teknologi mitigasinya.
Pemetaan Risiko Bencana
3
Peran Masyarakat
Peran Masyarakat dalam Pemetaan Risiko Bencana
Pilihan Ganda
Indonesia perlu melakukan pemetaan lokasi risiko bencana alam agar masyarakat dapat mengurangi kerentanan terhadap dampaknya. Peran masyarakat dalam pemetaan lokasi risiko bencana, yaitu ....
  • A menentukan lokasi pembangunan infrastruktur mitigasi bencana
  • B menjadi relawan saat terjadi bencana
  • C memberikan informasi mengenai potensi bahaya
  • D menetapkan status darurat suatu daerah berdasarkan data kerugian
  • E menyusun regulasi tata ruang wilayah rawan bencana
Kunci Jawaban: C
Dalam proses pemetaan risiko bencana, masyarakat berperan sebagai sumber informasi lokal yang paling mengenal kondisi wilayahnya. Pengetahuan lokal tentang lokasi rawan banjir, titik longsor, atau jalur aliran lahar sangat berharga bagi para pembuat peta. Adapun penetapan status darurat, penyusunan regulasi tata ruang, dan penentuan lokasi infrastruktur merupakan kewenangan pemerintah dan lembaga teknis, bukan peran masyarakat umum.
Tindakan Penyelamatan
4
Tanggap Darurat
Tindakan Penyelamatan Saat Angin Besar dan Petir
Pilihan Ganda
=
BADAI ANGIN
Saat terjadi angin besar yang disertai petir, tindakan penyelamatan yang tepat, yaitu ....
  • A mencari pegangan yang kuat
  • B lari ke balai desa atau gedung terdekat
  • C berdiam di rumah dan pastikan pintu jendela terkunci
  • D mencari berita melalui televisi atau ponsel
  • E berlindung ke lokasi lebih tinggi
Kunci Jawaban: B
Saat angin besar dan petir, prioritas utama adalah mencari perlindungan di dalam bangunan kokoh seperti balai desa atau gedung permanen. Bangunan masif memberikan perlindungan dari sambaran petir dan terpaan angin kencang. Tetap di rumah dengan jendela terkunci berisiko jika bangunan tidak cukup kuat. Berlindung di lokasi lebih tinggi justru berbahaya karena ketinggian meningkatkan risiko sambaran petir.
Abrasi
5
Mitigasi Bencana
Faktor Manusia yang Memperparah Abrasi
Pilihan Ganda
Abrasi merupakan bencana yang tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada beberapa faktor yang memengaruhinya. Faktor dari aktivitas manusia yang dapat meningkatkan ancaman abrasi, yaitu ....
  • A eksploitasi air tanah untuk industri
  • B gelombang laut tinggi akibat badai tropis
  • C pembangunan pemecah ombak di garis pantai
  • D alih fungsi hutan bakau untuk tambak
  • E membangun permukiman terapung
Kunci Jawaban: D
Alih fungsi hutan bakau (mangrove) menjadi tambak adalah faktor manusia yang paling signifikan memperparah abrasi. Hutan bakau berfungsi sebagai pelindung alami pantai yang meredam energi gelombang dan mengikat sedimen. Ketika mangrove ditebang, garis pantai kehilangan pelindungnya dan menjadi rentan terkikis gelombang laut secara progresif. Pilihan B (gelombang badai) merupakan faktor alam, bukan aktivitas manusia.
Kearifan Lokal
6
Mitigasi Berbasis Kearifan Lokal
Kearifan Lokal dalam Hunian Tahan Bencana
Pilihan Ganda Kompleks
Kearifan lokal untuk menghadapi bencana yang diwujudkan dalam hunian, yaitu ....
PernyataanJawaban
(1) Menggunakan bahan bangunan yang ringanBENAR
(2) Fondasi menggunakan bata merah dan besiSALAH
(3) Menggunakan atap dari genting atau sengSALAH
(4) Rumah sederhana berbentuk panggungBENAR
(5) Konstruksi penahan beban sesuai standarBENAR
Kunci Jawaban: (1), (4), (5)
Kearifan lokal dalam hunian tahan bencana mengutamakan prinsip keselamatan jiwa. Bahan bangunan ringan (1) mengurangi risiko cedera fatal akibat reruntuhan saat gempa. Rumah panggung (4) merupakan warisan arsitektur lokal yang terbukti efektif menghadapi banjir dan tsunami karena air dapat mengalir di bawahnya. Konstruksi penahan beban yang standar (5) memastikan kekuatan struktural bangunan. Sebaliknya, fondasi bata merah (2) mudah runtuh saat gempa, dan atap genting/seng berat (3) berbahaya saat terjadi guncangan.
Peta Kawasan Rawan Bencana
7
Pemetaan Bencana
Peta KRB – Tingkat Kerawanan Sepanjang Sungai
Pilihan Ganda
PETA KERAWANAN BENCANA
Pembuatan peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) memerlukan indikator tertentu. Berdasarkan peta, daerah di sepanjang sungai memiliki tingkat kerawanan yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh ....
  • A rawan banjir bandang
  • B perbedaan struktur tanah sungai
  • C aliran lava gunung api mengikuti arah sungai
  • D pola permukiman yang mengikuti alur sungai
  • E perbedaan elevasi wilayah di sekitar sungai
Kunci Jawaban: E
Tingkat kerawanan bencana di sepanjang sungai berbeda-beda terutama karena perbedaan elevasi (ketinggian wilayah). Daerah hulu sungai yang berelief curam lebih rawan longsor dan banjir bandang, sedangkan daerah hilir yang datar dan rendah lebih rentan terhadap banjir genangan. Perbedaan ketinggian juga menentukan kecepatan dan volume aliran air yang menggenangi suatu kawasan, sehingga menjadi variabel utama dalam penyusunan peta KRB.
Tanggap Darurat
8
Tanggap Darurat Bencana
Upaya Tanggap Darurat Bencana oleh Masyarakat
Pilihan Ganda
Berdasarkan gambar, upaya tanggap darurat bencana yang perlu dilakukan oleh masyarakat Indonesia, yaitu ....
  • A menghindari daerah dataran rendah
  • B mematikan semua jaringan listrik di rumah
  • C melakukan penyemaian hujan buatan di daerah tangkapan air
  • D membuat terasering dengan sistem drainase pada lahan pertanian
  • E membangun sumur resapan untuk menjaga ketersediaan air
Kunci Jawaban: E
Sumur resapan merupakan upaya struktural berbasis masyarakat yang mendukung tanggap darurat terhadap bencana kekeringan dan banjir secara bersamaan. Sumur resapan meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah, mengurangi limpasan permukaan penyebab banjir, sekaligus mengisi cadangan air tanah untuk ketersediaan air saat kemarau. Pilihan D (terasering) lebih bersifat pencegahan erosi jangka panjang, bukan tanggap darurat langsung.
📌 Poin Kunci Sub Materi Ini: Mitigasi bencana mencakup tindakan sebelum (kesiapsiagaan), saat (tanggap darurat), dan sesudah (rehabilitasi) bencana. Peran aktif masyarakat dalam edukasi, pemetaan risiko, dan penerapan teknologi lokal terbukti menurunkan angka korban jiwa secara signifikan.
close