Komponen-Komponen Lingkungan Hidup dan Pengaruhnya bagi Manusia

A. Hubungan Manusia dan Lingkungan

Geografi mempelajari hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Manusia berinteraksi dengan komponen-komponen lingkungan. Lingkungan fisik terdiri atas komponen biotik dan abiotik. Biotik meliputi hewan dan tumbuhan. Abiotik meliputi tanah, air, dan batuan. Interaksi tersebut bertujuan untuk mempertahankan eksistensi kehidupan manusia.

Komponen-Komponen Lingkungan Hidup dan Pengaruhnya bagi Manusia

Selain berinteraksi dengan lingkungan fisik, manusia juga berinteraksi dengan sesamanya. Interaksi sosial ini menghasilkan lingkungan sosial. Lingkungan sosial adalah tempat berkembangnya nilai dan norma. Nilai dan norma tersebut mengatur interaksi antarmanusia.

Lingkungan sosial sering dipengaruhi oleh lingkungan fisiknya. Lingkungan sosial di dataran tinggi berbeda dengan lingkungan sosial di wilayah pesisir. Perbedaan ini tampak pada bidang pertanian dan kebudayaan. Perbedaan juga tampak pada bahasa (aksen) dan teknologi.

Pada awalnya hubungan manusia dan lingkungan fisik berjalan harmonis. Jumlah manusia masih sedikit. Manusia juga belum mengenal teknologi. Pengambilan sumber daya alam masih dalam batas wajar. Kondisi ini tidak menimbulkan kerusakan (eksplorasi).

Seiring waktu jumlah manusia meningkat drastis. Kebutuhan manusia pun semakin besar. Teknologi dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Manusia cenderung mengambil sumber daya alam secara berlebihan (eksploitatif).

(Baca juga : Faktor Interaksi dan Teori Interaksi Antarwilayah)

Perilaku eksploitatif berakibat pada degradasi lingkungan. Lingkungan fisik menjadi tercemar. Pencemaran berdampak buruk pada manusia. Dampak tersebut berupa penyakit, bencana alam, dan kelangkaan sumber daya.

B. Komponen Lingkungan Hidup

Lingkungan hidup terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah lingkungan alam yang terdiri atas komponen biotik dan abiotik. Bagian kedua adalah lingkungan sosial budaya yang merupakan hasil karya manusia.

Komponen lingkungan memiliki kemiripan dengan aspek kajian geografi. Lingkungan alam sesuai dengan aspek fisik. Lingkungan sosial budaya sesuai dengan aspek sosial. Aspek fisik berkaitan dengan fenomena geosfer yang memengaruhi kehidupan manusia. Aspek sosial berkaitan dengan pola dan aktivitas hidup manusia (kebudayaan).

Lingkungan Hidup Lingkungan Alami (aspek fisik) Lingkungan Sosial Budaya (aspek sosial) Biotik hewan, tumbuhan Abiotik tanah, air, batuan saling memengaruhi Interaksi manusia dengan alam Interaksi manusia dengan sesama
Gambar: Bagan Komponen Lingkungan Hidup

1. Lingkungan Hidup Alami

Lingkungan hidup alami adalah lingkungan yang ada di bumi tanpa pengaruh manusia. Lingkungan ini terdiri atas komponen biotik dan abiotik.

Komponen biotik adalah segala makhluk hidup. Cakupannya mulai dari mikroorganisme hingga tumbuhan dan hewan. Komponen abiotik adalah segala kondisi di sekitar makhluk hidup. Contohnya batuan, tanah, air, udara, dan suhu.

Komponen biotik sering disebut lingkungan organik. Komponen abiotik sering disebut lingkungan anorganik. Keduanya saling memengaruhi. Batuan, tanah, air, dan udara memengaruhi keberadaan organisme di suatu wilayah. Faktor-faktor tersebut juga memengaruhi fisiologis organisme. Pertumbuhan tanaman, misalnya, dipengaruhi oleh kondisi tanah serta cuaca dan iklim.

a. Pengaruh Komponen Abiotik terhadap Biotik

1) Sayuran tumbuh sangat baik di wilayah pegunungan. Pegunungan bersuhu dingin. Tanah vulkaniknya juga subur.

2) Tanaman palma tumbuh sangat baik di wilayah pantai bersuhu tinggi (megaterma). Contohnya kelapa, nipah, dan sagu.

3) Hewan memiliki fisiologis yang berbeda di tiap wilayah. Perbedaan ini disebabkan oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Beruang kutub berwarna putih untuk berkamuflase dengan es. Beruang panda berwarna hitam untuk menakuti predator. Beruang grizzly berwarna cokelat untuk berkamuflase di balik pohon saat berburu.

b. Pengaruh Komponen Biotik terhadap Abiotik

1) Suhu udara dipengaruhi oleh keberadaan tumbuhan. Udara terasa lebih sejuk di wilayah yang banyak tumbuhan. Kondisi ini juga memengaruhi kelembaban dan curah hujan. Angin di wilayah tersebut ikut terpengaruh.

2) Vegetasi menyuburkan tanah. Sisa vegetasi mengalami dekomposisi oleh organisme. Tanah subur terbentuk dari pelapukan daun dan batang pohon. Kotoran hewan turut menambah kesuburan tersebut.

3) Tanaman memengaruhi keberadaan air tanah. Tanaman menahan air hujan agar meresap ke dalam tanah (infiltrasi). Semakin banyak tanaman maka kondisi air tanah cenderung semakin baik.

Pengaruh antarkomponen ini menyebabkan keberagaman wilayah. Wilayah dengan tumbuhan yang beragam memungkinkan hewan yang beragam pula.

Perbedaan produsen dan konsumen

2. Lingkungan Sosial Budaya

Lingkungan sosial budaya adalah lingkungan hidup yang terbentuk dari dua interaksi. Interaksi pertama antara manusia dengan sesama. Interaksi kedua antara manusia dengan alam. Lingkungan ini tidak terlepas dari pengaruh lingkungan hidup alami.

a. Interaksi Manusia dengan Lingkungan Hidup Alami

Manusia yang tinggal di suatu ruang pasti berinteraksi dengan lingkungan hidup alami. Lingkungan alami (biotik dan abiotik) membentuk lingkungan sosial budaya. Dalam interaksi ini manusia berada pada posisi dominan. Manusia dikaruniai kemampuan melebihi makhluk lain.

(Baca juga : Berbagai Jenis Pekerjaan Masyarakat akibat Letak dan Bentuk Muka Bumi di Indonesia)

Kondisi lingkungan alami berbeda-beda di setiap tempat. Perbedaan ini membuat lingkungan sosial budaya tiap wilayah memiliki corak tertentu. Corak tersebut tampak pada adat istiadat, norma, dan nilai yang dianut. Berikut contoh pengaruh lingkungan alami terhadap manusia.

1) Wilayah pegunungan. Tanah yang subur mendorong pemanfaatan lahan untuk pertanian. Masyarakat memiliki budaya bertani sayuran. Adat sedekah bumi kepada gunung sering ditemukan di wilayah ini.

2) Wilayah pesisir. Masyarakat berorientasi pada laut. Mereka bertahan hidup dari hasil laut. Hasil laut tersebut berupa ikan, rumput laut, dan udang. Kondisi pesisir tidak memungkinkan masyarakat bercocok tanam. Wilayah muara (delta) memang bertanah subur. Adat yang sering ditemukan adalah sedekah laut. Rumah apung juga umum dijumpai. Masalah sanitasi yang kurang baik pun sering muncul.

3) Wilayah dataran rendah. Tanah subur dan air melimpah mendukung budaya pertanian sawah. Masyarakat memanfaatkan air sungai dan sumur untuk kehidupan sehari-hari.

Pemanfaatan lingkungan alami didasarkan pada kebutuhan untuk bertahan hidup. Perkembangan budaya di setiap wilayah bergantung pada kualitas manusia. Tiap kelompok masyarakat memiliki tingkat budaya masing-masing. Masyarakat maju dengan teknologi tinggi mampu memanfaatkan lingkungan untuk kemakmuran. Kelompok dengan kemampuan budaya terbatas memanfaatkan sumber daya secara terbatas pula.

(Baca juga : Bentuk Interaksi Manusia dan Ruang)

Seiring waktu masyarakat maju cenderung mengeksploitasi sumber daya alam. Kebutuhan yang beragam mendorong perilaku ini. Kemampuan teknologi juga mendukungnya. Masyarakat tradisional cenderung menjaga kelestarian lingkungan. Norma dan nilai tertentu mengikat mereka. Dengan demikian komponen sosial budaya turut memengaruhi komponen abiotik dan biotik. Contohnya pemanfaatan dan pemeliharaan lahan serta hutan untuk kegiatan pertanian maupun nonpertanian.

Diagram alir kerusakan lingkungan akibat kebutuhan manusia

b. Interaksi Manusia dengan Sesama

Interaksi sosial dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Soekanto (2017) terdapat dua bentuk interaksi sosial. Kedua bentuk itu adalah interaksi asosiatif dan disosiatif.

1) Interaksi asosiatif. Bentuk ini cenderung menimbulkan persatuan. Contohnya:

a) kerja sama;

b) saling menghargai;

c) saling memberi dan menerima.

(Baca juga : Faktor Keberagaman Sosial Budaya di Indonesia)

2) Interaksi disosiatif. Bentuk ini cenderung menimbulkan persaingan dan pertikaian. Pertentangan memiliki beragam bentuk:

a) pertentangan pribadi;

b) pertentangan rasial;

c) pertentangan antarkelas sosial;

d) pertentangan politik;

e) pertentangan internasional.

Semua bentuk pertentangan menciptakan lingkungan sosial yang tidak nyaman. Interaksi manusia dengan sesamanya juga menyebabkan keberagaman kondisi sosial budaya di suatu wilayah.

close